Rabu, 29 Mei 2013

Fatwa Syaikh Khalid Abdul Mun’im Ar Rifa’i -hafizhahullah-


Soal:
Usia berapa usia yang paling afdhal untuk mulai mengajarkan Al Qur’an kepada anak? Dan bagaimana caranya?
Jawab:
الحمدُ لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصَحْبِه ومَن والاه، أمَّا بعدُ
Usia yang afdhal untuk mulai untuk mulai mengajarkan Al Qur’an kepada anak adalah sejak tiga tahun. Karena ketika itu akalnya mulai berkembang, memorinya masih bersih murni, ia masih senang dengan kisah-kisah dan ia masih mudah menuruti apa yang diperintahkan.
Diantara metode yang bagus dalam mengajarkan hafalan Al Qur’an Al Karim adalah sebagai berikut:
  1. Hendaknya yang mulai mengajarkan hafalan Qur’an adalah kedua orang tuanya. Karena secara umum, pada seumur itu mereka belum bisa memiliki pelafalan yang stabil dan masih sulit memfokuskan diri untuk melafalkan bacaan dengan benar
  2. Hendaknya mendiktekan surat-surat pendek kepada anak, dan mengulang-ulang ayatnya. Jika ayatnya panjang, bisa dipotong-potong menjadi beberapa kalimat. Sampai mereka bisa mampu melatihnya dan mengulang-ulangnya sendiri tanpa didikte.
  3. Menggunakan beberapa media rekaman murattal yang dapat membantu anak menghafal Qur’an. Misalnya rekaman murattal Al Hushari.
  4. Menjelaskan makna-makna ayat dengan penjelasan yang menyenangkan. Misalnya dengan dibumbui candaan dan permisalan-permisalan. Hal ini memudahkan anak untuk menghafal karena jika mereka paham maksud ayat, akan lebih mudah menghafalnya.
  5. Tidak terikat dengan jangka waktu tertentu pada usia-usia awal. Namun ajari mereka jika ada kesempatan dan ketika semangatnya sedang timbul.
  6. Memasukkan mereka ke halaqah-halaqah yang mengajarkan Al Qur’an, yang sesuai dengan sunnah, jika ada.
  7. Mengerahkan segala upaya terhadap anak yang dapat membuat ia lebih mencintai Al Qur’an dan membakar semangatnya untuk menghafal. Di antaranya dengan memberinya hadiah yang ia sukai setiap kali menghafal panjang ayat tertentu. Selain itu juga tumbuhkan semangat perlombaan menghafal antara ia dengan saudaranya atau antara ia dengan teman-temannya.
Demikianlah caranya. Mengajarkan Al Qur’an kepada anak sejak kecil membuahkan banyak kebaikan dan pahala. Hendaknya para orang tua bersemangat mengajarkan anak mereka sejak dari kecil, semoga dari itu semua mereka mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خيرُكم من تعلَّم القُرآن وعلَّمه
Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya” (Muttafaqun ‘alaihi)
Wallahu’alam


Selasa, 21 Mei 2013

METODE KURIKULUM NABI (Shalallahu Alaihi wa Sallam)


PENDIDIKAN BERBASIS METODE AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha berkata: “Wahyu yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah sebuah surat yang menyebt Surga dan Neraka”.  Yang dimaksud oleh Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha ialah surat al-Muddatstsir yang merupakan surat kedua yang turun. Di dalam surat itu terdapat firman Allah subhanahu wa Ta’alaa:

“Dan tidaklah Kami menjadikan penjaga-penjaga Neraka itu melainkan (dari kalangan) Malaikat.”(Q.S. Al-Muddatstsir:31)
Dan juga terdapat firman Allah:

“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat, kecuali golongan kanan, berada didalam Surga, sedang mereka bertanya-tanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Muddatstsir: 38-41)
Ketika manusia benar-benar menyadari kebenaran Islam turunlah ayat tentang halal-haram. (Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal. 18)

Andaikata sejak awal turun larangan berzina, niscaya mereka akan menjawab: “Kami tidak akan meninggalkan zina.” Dan andaikata sejak awal turun larangan meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: “Kami tidak akan berhenti meminum khamer.”
Ketika aku kanak-kanak, kata Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam menerima firman Allah Subhanu wa Ta’alaa:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS. Al-Qamar: 46)
“Sedangkan surat al-Baqarah dan An-Nisaa belum ada yang turun kecuali seteah aku berada di sisi beliau di Madinah,” kata bunda Aisyah Radhiyallahu”anha. (HR. Bukhari,4993, Fadha’il Al-Qur’an dan Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal. 19)
Jadi jelas, selama di Makkah Nabi Shalallahu’alaihi wassalam lebih berkonsentrasi pada upaya mendidik para Sahabat. Dan untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka diperintahkan untuk menahan tangan mereka, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Allah Subhanu wa Ta’alaa berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari perang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. An-Nisa: 77)
Untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka juga dilarang membalas setiap serangan yang dilancarkan kepada mereka. Mereka justru diperintahkan untuk memaafkan dan mengabaikan serangan tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanu wa Ta’alaa:

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.” (QS. Al-Jatsiyah: 14)
Tujuannya ialah agar konsentrasi mereka terhadap pendidikan tidak terganggu dengan pertempuran-pertempuran yang tidak prinsipil.
Jika Al-Bukhari mengatakan bahwa ilmu harus dimiliki sebelum berbicara dan berbuat, para Sahabat justru mengatakan sesuatu yang lebih dalam dari itu, yaitu bahwa iman harus dimliki sebelum ilmu. Al-Hakim meriwayatkan-dengan sanad yang shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Al-Bukhari dan Muslim- dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu bahwasanya ia berkata: “Sungguh kami benar-benar menjalani sesaat dari waktu kami ketika salah seorang dari kami diberikan iman sebelum Al-Qur’an.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Aku pernah melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam. Tetapi kini aku tidak melihat sesuatu yang menyeupai mereka. Dahulu mereka memasuki waktu pagi dengan muka pucat, ambut kumal dan kulit berdebu. Mata mereka tampak seperti orang-orang yang sedang berkabung. Mereka menghabiskan malam dengan sujud dan berdiri. Mereka menggerakan dahi dan kaki mereka silih berganti. Bila pagi tiba mereka terus bergerak laksana pohon-pohon yang bergoyang-goyang diterpa angin. Mereka berurai air mata. Demi Allah, aku benar-benar merasa berhadapan dengan orang-orang yang lalai sepanjang malam.”
Tak pelak Nabi Shalallahu’alaihi wassalam benar-benarberkonsentrasi pada pendidikan para sahabat. Beliau mengisi jiwa mereka dengan Al-Qur’an dan mengangkat ruhani mereka dengan shalat malam dan puasa. Sehingga mereka menjelma menjadi matahari-matahari yang terang dan rembulan-rembulan yang member petunjuk. Melalui merekalah Allah Subhanhu wa Ta’alaa membuka banyak negeri dan mengetuk banyak hati, hingga terbentuklah Daulah Islamiyyah di Madinah Al-Munawwarah dalam jangka waktu yang tidak lebih dari beberapa saat dari umur dunia. Hal itu terjadi 13 tahun setelah babak kenabian yang penuh berkah dimulai. Dan ketika Nabi Shalallahu’alaihi wassalam meninggalkan dunia ini Islam telah menguasai seluruh Jazirah Arab. Setelah itu sinar Islam menyebar ke timur dan barat. Bahkan umat Islam berhasil mengetuk pintu gerbang Vienna di Eropa dan sampai ke perbatasan Cina di Asia. 

KAPAN ADA WANITA SEPERTI INI LAGI ?


KAPANKAH ADA WANITA SEPERTI INI LAGI???

Ibnu 'Asaakir rahimahullah dalam kitabnya Taarikh Dimasyq menyebutkan biografi seorang wanita yang sholehah yang sangat rajin beribadah yang bernama ROOBI'AH BINTI ISMA'IL. Wanita ini seorang janda yang kaya raya. Ia telah memberanikan diri untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada seorang lelaki yang sholeh yang bernama Ahmad bin Abil Hawaari. Maka Ahmad bin Abil Hawaari berkata :

لَيْسَ لِي هِمَّةٌ فِي النِّسَاءِ لِشُغْلِي بِحَالِي

"Aku tidak punya hasrat kepada para wanita karena kesibukanku dengan dirikau (yaitu ibadahku)"

Ternyata sang wanita Robi'ah binti Isma'il juga berkata :
 
إني لأشغل بحالي منك وما لي شهوة ولكني ورثت مالا جزيلا من زوجي فأردت أن أنفقه على إخوانك وأعرف بك الصالحين فتكون لي طريقا إلى الله

"Sungguh aku juga bahkan lebih sibuk beribadah dari dirimu, serta aku tidak berhasrat, akan tetapi aku telah mewarisi harta yang banyak dari suamiku. Aku ingin untuk menginfakan hartaku pada saudara-saudaramu, dan dengan dirimu aku mengenal orang-orang yang sholeh, sehingga hal ini menjadi jalanku menuju Allah"

Ahmad bin Abil Hawaari berkata, "Aku minta izin dahulu kepada guruku"
Lalu Ahmad pun menyampaikan hal ini kepada Abu Sulaiman gurunya, dan sang guru selalu melarang murid-muridnya untuk menikah dan berkata, "Tidak seorangpun dari sahabat kami yang menikah kecuali akan berubah". Namun tatkala sang guru mendengar tentang tuturan sang wanita maka ia berkata :

تَزَوَّجْ بِهَا فَإِنَّهَا وَلِيَّةُ للهِ

"Nikahilah wanita tersebut, sesungguhnya ia adalah soerang wanita wali Allah"

Lalu akhirnya Ahmad bin Abil Hawaaripun menikahi sang wanita Roobi'ah binti Isma'il, lalu Ahmad berkata, 

وتزوجت عليها ثلاث نسوة فكانت تطعمني الطيبات وتطيبني وتقول اِذْهَبْ بِنَشَاطِكَ وَقُوَّتِكَ إِلَى أَزْوَاجِكَ

"Setelah itu akupun menikahi lagi tiga orang wanita setelahnya. Dan ia senantiasa memberi makanan yang baik kepadaku, dan memakaikan minyak wangi kepadaku seraya berkata, "Pergilah engkau dengan semangat dan kekuatanmu ke istri-istrimu"

(Tariikh Dimasyq, Karya Ibnu 'Asaakir jilid 69 hal 115-116)
Kapankah ada wanita yang seperti ini lagi…? Memberi nafkah kepada suaminya…bahkan menghiasi suaminya untuk mendorong suaminya berangkat ke madu-madunya yang lain??!!
Namun juga para wanita juga akan berkata, "Kapankah ada seorang lelaki yang seperti Ahmad Abul Hawaari lagi? yang sangat rajin beribadah…?, sehingga para wanita tidak ragu untuk menawarkan dirinya??"

Status Ust. Firanda, MA

Senin, 20 Mei 2013

## KISAH SEORANG ANAK TUNANETRA YANG HAFAL QURAN, NAMUN IA TIDAK MENGINGINKAN UNTUK DAPAT MELIHAT (Kisah Mengharukan)







SYAIKH FAHD AL KANDERI mewancarai anak istimewa ini yang bernama MUADZ. Seorang anak laki-laki TUNANETRA penghafal Al-Quran dari Mesir yang berusia 11 tahun.

Dalam wawancara itu beliau FAHD AL KANDERI menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Quran dan kebutaannya.

Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.

"Saya yang datang ke tempat syaikh," katanya.

"Berapa kali dalam sepekan?" Tanya beliau.

"Tiga hari dalam sepekan," jawabnya.

Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu beliau SYaikh FAHD AL KANDERI bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Quran hanya mengajarinya satu ayat per hari.

"Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari," ujarnya.

"Satu ayat saja?" respon beliau terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.

Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Quran, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatannya, namun rahmat Allah lah yang ia harapkan.

"Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku," katanya.

Mendengar jawaban anak ini Syaikh Fahd Al Kanderi semakin terkejut.

"Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Kenapa?" tanya beliau heran.

Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.

"Semoga menjadi keselamatan bagiku pada HARI PEMBALASAN (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak," papar MUADZ dengan tegas.

Mendengar kalimat mulia anak ini, semua diam. Syaikh nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan menitikkan air mata.

Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?" kata Syaikh Fahd AL Kanderi.

"Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan," kata MUADZ penghafal Quran muda ini.

Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan.

Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah). "Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi 'Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,'" katanya.

Kehilangan penglihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya.

"Alhamdulillah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha' dan qadar Allah," katanya.

"Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi," kata MUADZ

Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.

Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi (shallallahu 'alaihi wa salam) bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الجَنَّةَ

Allah berfirman, "Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga." (HR. Bukhari no. 5653, Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597, Ad-Darimi no. 2795 dan Ibnu Hibban no. 2932)

********************