PENDIDIKAN BERBASIS METODE AHLUS SUNNAH WAL
JAMA’AH
Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha berkata: “Wahyu
yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah sebuah surat yang menyebt Surga
dan Neraka”. Yang dimaksud oleh Bunda
Aisyah Radhiyallahu’anha ialah surat al-Muddatstsir yang merupakan surat kedua
yang turun. Di dalam surat itu terdapat firman Allah subhanahu wa Ta’alaa:
“Dan tidaklah Kami menjadikan penjaga-penjaga
Neraka itu melainkan (dari kalangan) Malaikat.”(Q.S. Al-Muddatstsir:31)
Dan juga terdapat firman Allah:
“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang
telah dia perbuat, kecuali golongan kanan, berada didalam Surga, sedang mereka
bertanya-tanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.” (Q.S.
Al-Muddatstsir: 38-41)
Ketika manusia benar-benar menyadari kebenaran
Islam turunlah ayat tentang halal-haram. (Pendidikan Berbasis Metode Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah, hal. 18)
Andaikata sejak awal turun larangan berzina,
niscaya mereka akan menjawab: “Kami tidak akan meninggalkan zina.” Dan
andaikata sejak awal turun larangan meminum khamer, niscaya mereka akan
menjawab: “Kami tidak akan berhenti meminum khamer.”
Ketika aku kanak-kanak, kata Bunda Aisyah
Radhiyallahu’anha, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam menerima firman Allah
Subhanu wa Ta’alaa:
“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang
dijanjikan kepada mereka. Dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”
(QS. Al-Qamar: 46)
“Sedangkan surat al-Baqarah dan An-Nisaa belum
ada yang turun kecuali seteah aku berada di sisi beliau di Madinah,” kata bunda
Aisyah Radhiyallahu”anha. (HR. Bukhari,4993, Fadha’il Al-Qur’an dan Pendidikan
Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal. 19)
Jadi jelas, selama di Makkah Nabi
Shalallahu’alaihi wassalam lebih berkonsentrasi pada upaya mendidik para
Sahabat. Dan untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka diperintahkan untuk
menahan tangan mereka, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Allah Subhanu wa Ta’alaa berfirman:
“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang
dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari perang), dirikanlah shalat
dan tunaikanlah zakat.” (QS. An-Nisa: 77)
Untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka
juga dilarang membalas setiap serangan yang dilancarkan kepada mereka. Mereka
justru diperintahkan untuk memaafkan dan mengabaikan serangan tersebut.
Sebagaimana firman Allah Subhanu wa Ta’alaa:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman
hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.”
(QS. Al-Jatsiyah: 14)
Tujuannya ialah agar konsentrasi mereka
terhadap pendidikan tidak terganggu dengan pertempuran-pertempuran yang tidak
prinsipil.
Jika Al-Bukhari mengatakan bahwa ilmu harus
dimiliki sebelum berbicara dan berbuat, para Sahabat justru mengatakan sesuatu
yang lebih dalam dari itu, yaitu bahwa iman harus dimliki sebelum ilmu.
Al-Hakim meriwayatkan-dengan sanad yang shahih menurut syarat yang ditetapkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim- dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu bahwasanya ia
berkata: “Sungguh kami benar-benar menjalani sesaat dari waktu kami ketika
salah seorang dari kami diberikan iman sebelum Al-Qur’an.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata:
“Aku pernah melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam.
Tetapi kini aku tidak melihat sesuatu yang menyeupai mereka. Dahulu mereka
memasuki waktu pagi dengan muka pucat, ambut kumal dan kulit berdebu. Mata
mereka tampak seperti orang-orang yang sedang berkabung. Mereka menghabiskan
malam dengan sujud dan berdiri. Mereka menggerakan dahi dan kaki mereka silih
berganti. Bila pagi tiba mereka terus bergerak laksana pohon-pohon yang
bergoyang-goyang diterpa angin. Mereka berurai air mata. Demi Allah, aku
benar-benar merasa berhadapan dengan orang-orang yang lalai sepanjang malam.”
Tak pelak Nabi Shalallahu’alaihi wassalam
benar-benarberkonsentrasi pada pendidikan para sahabat. Beliau mengisi jiwa
mereka dengan Al-Qur’an dan mengangkat ruhani mereka dengan shalat malam dan
puasa. Sehingga mereka menjelma menjadi matahari-matahari yang terang dan
rembulan-rembulan yang member petunjuk. Melalui merekalah Allah Subhanhu wa
Ta’alaa membuka banyak negeri dan mengetuk banyak hati, hingga terbentuklah
Daulah Islamiyyah di Madinah Al-Munawwarah dalam jangka waktu yang tidak lebih
dari beberapa saat dari umur dunia. Hal itu terjadi 13 tahun setelah babak
kenabian yang penuh berkah dimulai. Dan ketika Nabi Shalallahu’alaihi wassalam
meninggalkan dunia ini Islam telah menguasai seluruh Jazirah Arab. Setelah itu
sinar Islam menyebar ke timur dan barat. Bahkan umat Islam berhasil mengetuk
pintu gerbang Vienna di Eropa dan sampai ke perbatasan Cina di Asia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar