Selasa, 21 Mei 2013

METODE KURIKULUM NABI (Shalallahu Alaihi wa Sallam)


PENDIDIKAN BERBASIS METODE AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha berkata: “Wahyu yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah sebuah surat yang menyebt Surga dan Neraka”.  Yang dimaksud oleh Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha ialah surat al-Muddatstsir yang merupakan surat kedua yang turun. Di dalam surat itu terdapat firman Allah subhanahu wa Ta’alaa:

“Dan tidaklah Kami menjadikan penjaga-penjaga Neraka itu melainkan (dari kalangan) Malaikat.”(Q.S. Al-Muddatstsir:31)
Dan juga terdapat firman Allah:

“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat, kecuali golongan kanan, berada didalam Surga, sedang mereka bertanya-tanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Muddatstsir: 38-41)
Ketika manusia benar-benar menyadari kebenaran Islam turunlah ayat tentang halal-haram. (Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal. 18)

Andaikata sejak awal turun larangan berzina, niscaya mereka akan menjawab: “Kami tidak akan meninggalkan zina.” Dan andaikata sejak awal turun larangan meminum khamer, niscaya mereka akan menjawab: “Kami tidak akan berhenti meminum khamer.”
Ketika aku kanak-kanak, kata Bunda Aisyah Radhiyallahu’anha, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam menerima firman Allah Subhanu wa Ta’alaa:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS. Al-Qamar: 46)
“Sedangkan surat al-Baqarah dan An-Nisaa belum ada yang turun kecuali seteah aku berada di sisi beliau di Madinah,” kata bunda Aisyah Radhiyallahu”anha. (HR. Bukhari,4993, Fadha’il Al-Qur’an dan Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal. 19)
Jadi jelas, selama di Makkah Nabi Shalallahu’alaihi wassalam lebih berkonsentrasi pada upaya mendidik para Sahabat. Dan untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka diperintahkan untuk menahan tangan mereka, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Allah Subhanu wa Ta’alaa berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari perang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. An-Nisa: 77)
Untuk berkonsentrasi pada pendidikan mereka juga dilarang membalas setiap serangan yang dilancarkan kepada mereka. Mereka justru diperintahkan untuk memaafkan dan mengabaikan serangan tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanu wa Ta’alaa:

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.” (QS. Al-Jatsiyah: 14)
Tujuannya ialah agar konsentrasi mereka terhadap pendidikan tidak terganggu dengan pertempuran-pertempuran yang tidak prinsipil.
Jika Al-Bukhari mengatakan bahwa ilmu harus dimiliki sebelum berbicara dan berbuat, para Sahabat justru mengatakan sesuatu yang lebih dalam dari itu, yaitu bahwa iman harus dimliki sebelum ilmu. Al-Hakim meriwayatkan-dengan sanad yang shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Al-Bukhari dan Muslim- dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu bahwasanya ia berkata: “Sungguh kami benar-benar menjalani sesaat dari waktu kami ketika salah seorang dari kami diberikan iman sebelum Al-Qur’an.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Aku pernah melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam. Tetapi kini aku tidak melihat sesuatu yang menyeupai mereka. Dahulu mereka memasuki waktu pagi dengan muka pucat, ambut kumal dan kulit berdebu. Mata mereka tampak seperti orang-orang yang sedang berkabung. Mereka menghabiskan malam dengan sujud dan berdiri. Mereka menggerakan dahi dan kaki mereka silih berganti. Bila pagi tiba mereka terus bergerak laksana pohon-pohon yang bergoyang-goyang diterpa angin. Mereka berurai air mata. Demi Allah, aku benar-benar merasa berhadapan dengan orang-orang yang lalai sepanjang malam.”
Tak pelak Nabi Shalallahu’alaihi wassalam benar-benarberkonsentrasi pada pendidikan para sahabat. Beliau mengisi jiwa mereka dengan Al-Qur’an dan mengangkat ruhani mereka dengan shalat malam dan puasa. Sehingga mereka menjelma menjadi matahari-matahari yang terang dan rembulan-rembulan yang member petunjuk. Melalui merekalah Allah Subhanhu wa Ta’alaa membuka banyak negeri dan mengetuk banyak hati, hingga terbentuklah Daulah Islamiyyah di Madinah Al-Munawwarah dalam jangka waktu yang tidak lebih dari beberapa saat dari umur dunia. Hal itu terjadi 13 tahun setelah babak kenabian yang penuh berkah dimulai. Dan ketika Nabi Shalallahu’alaihi wassalam meninggalkan dunia ini Islam telah menguasai seluruh Jazirah Arab. Setelah itu sinar Islam menyebar ke timur dan barat. Bahkan umat Islam berhasil mengetuk pintu gerbang Vienna di Eropa dan sampai ke perbatasan Cina di Asia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar