PERAN RUMAH DALAM PENDIDIKAN ANAK (Bag. II)
Syaikh Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut Rahimahullah sebagai pakar
Pendidikan dari King Abdul Aziz University Jeddah Arab Saudi, beliau selalu
menyertakan peran Ibu dalam pendidikan anak. Hal ini tidaklah heran karena besarnya
peran ibu dalam pendidikan anak, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Pepatah mengatakan : “Sesungguhnya di belakang setiap tokoh yang agung ada
seorang wanita yang agung.” Berikut ini akan kita bahas peran ibu dalam
pendidikan anak.
Sejak dahulu kala, wanita mempunyai peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata apalagi dilupakan, terutama jika ada pihak yang mengasuhnya dan membawanya kepada kebenaran dengan pendidikan dan pembinaan yang baik, bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjamin baginya surga. Dari hasil pembinaan yang dinamis terhadap wanita, maka akan lahirlah wanita yang mampu memberi buah yang teramat ranum dan pohon-pohonnya menaungi alam semesta dengan kedamaian dan kebaikan.
Wanita (ibu) ibarat pedang bermata dua, apabila
dia baik dan menunaikan tugas-tugasnya yang utama beserta tujuan yang terlah
digariskan, maka dia laksana batu bata yang biak bagi sebuah bangunan
masyarakat islam yang memiliki karakter akhlak yang kuat dan keyakinan yang
teguh. (Mahmud Mahdi al-Istambuli dalam muqoddimah Nisaa Haula Rasul).
Syaikh Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut Rahimahullah melanjutkan bahwa peran
ibu dalam pendidikan lebih dahulu bermain daripada peran ayah, karena seorang
ibu lebih dekat kepada anak, dan anak adalah bagian darinya, serta emosi ibu
kepada anak lebih kuat daripada emosi seorang ayah. Dari sinilah pentingnya
memilih istri yang agamanya baik.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan suatu hadits
dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara:
karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka
nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.”
Seorang penyair berkata :
الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
Ibu adalah madrasah (tempat belajar) bila kau
mempersiapkannya, kau telah menyiapkan bangsa yang hebat.
Allah telah membekali seorang ibu dengan naluri
keibuannya yang tidak diberikan kepada seorang ayah. Naluri ini secara fisik
merupakan naluri yang paling kuat dari semua naluri fisik lainnya. Para Ahli
ilmu kejiwaan telah melakukan penelitian pada tikus, dan dari percobaan itu
mereka telah menemukan bahwa stimulan fisik seorang ibu akan menghasilkan
berbagai hal sebagai seperti : keibuan, kehausan, kelaparan, dan seksualitas.
Karena itu, seorang ibu siap untuk melindungi anak dan berkorban demi anaknya,
baik dalam kondisi istirahat maupun tidur, sedangkan dirinya tetap ridha.
Factor tersebut dapat membuat ibu kuat untuk
bergadang demi kenyamanan anaknya, terutama pada usia dua tahun pertama, dimana
peran seorang ayah pada saat seperti itu masih sangat sedikit. Dua tahun
pertama memiliki pengaruh sangat besar terhadap kepribadian anak. Ilmu kejiawan
belum bisa mendeteksi dimanakah letak rahasianya. Diantara fenomena itu, bahwa
bayi dapat mengenali ibunya dari baunya, kemudian mengenali suaranya.
Sebagaimana pula bahwa bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang diikuti oleh
anak. Mayoritas emosi seorang anak pada tahun pertama berkaitan dan terpusat
pada ibu, atau orang yang menggantikan peran ibu tersebut. (Daur Bait Fii
Tarbiyatith Thiflil Muslim).
Konsep pendidikan islam adalah konsep
pendidikan yang berlandaskan wahyu, bukan konsep percobaan atau penelitian.
Maka bagi seorang muslim harus menyakini, membenarkan dan melaksanakan apa yang
Rasulullah sampaikan. Tanpa perlu meneliti dan mengkaji kembali. Sebagian kaum
muslimin baru meyakini konsep Nabi adalah konsep terbaik setelah para peneliti
Barat membuktikan kemukjizatan Nabi. Bagi kaum muslimin yang taat pada Allah
dan Rasul-Nya hendaknya mendahulukan perkataan keduannya dibandingkan dengan
yang lain. Bila kita sudah paham konsep Nabi yang terbaik, maka untuk apa
mencari konsep yang lain.
Selanjutnya, bila kita sudah paham bahwa anak
sejak bulan keenam telah mulai terbentuk hubungan socialnya dengan lingkungann
sekitarnya, maka menjadi jelaslah bagi kita pentingnya peran ibu bagi
pendidikan anak. Seorang peneliti, Samiyah Hamam menemukan bahwa dampak
ketidak hadiran ibu jauh lebih besar daripada dampak ketidak hadiran ayah bagi
anan-anak. Karena ibu yang bijaksana dapat mengisi sebagian kekosongan yang
tidak diisi oleh ayah.
Mengingat pentingnya peran ibu dalam
pendidikan, kita akan mengisyaratkan keistimewaan syariat islam yang telah
megumpulkan alasan-alasan yang cukup untuk menjadikan seorang ibu berada dalam
posisi yang tepat sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya. Sehinga kaum ibu
bisa beribadah kepada Allah dalam rumahnya sendiri. Diantara alasa-alasan
tersebut adalah :
1.
Asal dari wanita adalah tinggal dirumah. Allah
berfirman : “Dan berdiamlah kalian di rumah-rumah kalian…. (QS. Al-Ahzab
33 : 33).
Allah
juga menjadikan shaltnya wanita dirumah lebih utama daripada shalat di masjid.
2.
Laki-laki (suami, ayah, anak laki-laki, atau
saudara laki-laki) dibebani menafkahi seorang wanita (atau istri), agar dia
bisa nyaman di rumah dan focus terhadap tugas yang sebenarnya.
Mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an, hadist dan
Atsar ulama yang mengisahkan betapa pentingnya peran ibu bagi anak, dan ibu
mampu mendidik anaknya tanpa seorang ayah. Diantara kesuksesan seorang ibu
adalah Hajar. Ia wanita teladan dalam akhlaknya yang baik dan perilakunya yang
indah. Ia mendidik anaknya, Nabi Ismail, dan mengasuhnya sejak kecil hingga
dewasa, sehingga akhirnya Nabi Ismail menjadi orang yang mampu mendaki di
tangga kehidupan.
Hajar menggadaikan kehidupannya agar anaknya
hidup dengan kehidupan yang baik dan anaknya adalah buah ranum yang
mendatangkan manfaat dengan izin Allah. Siapa saja yang membuka lembaran
kehidupan Nabi Ismail, ia pasti mendapati kehidupannya serat dengan aroma wangi
dan parfum harum. Kehidupan Nabi Ismail Alihis Salam menegaskan bahwa beliau
adalah seorang laki-laki dengan segala makna laki-laki itu sendiri. Beliau
sabar terhadap musibah dan cobaan yang datang kepadanya, ridha dengan qadha’
dan takdir Allah. Beliau tanaman baik milik ibu yang juga baik. Apakah semua
ini terjadi begitu saja tanpa adanya pendidikan dan peran seorang ibu ?
Kisah sebaiknya, kita lihat contoh pada Istri
Nabi Nuh Alahis Salam yang gagal dalam mendidik anaknya, akhlak buruk lebih
mendominasinya, akibatnya fitrahnya hancur lebur dan ia tidak mampu mendidik
anaknya dengan baik. Akibatnya, anaknya menjadi kafir seperti dirinya. Pada
kedua contoh diatas, kita lihat bahwa ayah keduanya adalah Nabi dan keduanya
pasti mendidiknya dengan baik tanpa ada keragu-raguan didalamnya. Tapi, ibu
mempunyai peran lebih besar dan lebih perpengaruh pada anak-anaknya.
Contoh lain ada pada Mariyam binti Imran yang
mampu mendidik Isa Alahis Salam, Asiah istri Fir’aun yang sukses mendidik Musa
Alaihis Salam ditengah keluarga yang dictator dan kejam. Dalam buku yang
ditulis oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, MA Hafidhohullah yang berjudul
“Ibunda Para Ulama, beliau menulis beberapa ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in
yang sukses dalam mendidik anaknya. Atau buku yang ditulis oleh Syaikh Dr.
Abdullah Al-Luhaidan dan Syaikh Dr. Abdullah al-Muthawwi’ yang berjudul Aitam Walakin Udzoma menyebutkan
beberapa ulama yang lahir dalam keadaan yatim, diantaranya sahabat Nabi, Zubair
bin Awwam, Abu Hurairah, Umar bin Sa’id al-Anshari Radhiallahu Anhum, atau
ulama seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu
Hajar Al-Asqalani, Syaikh Al-Amin Asyinqithi, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di,
Syaik Abdul Aziz bin Baz dan yang lainnya. Dari contoh kehidupan diatas, maka
jelaslah bahwa peran ibu sangat penting bagi pendidikan anak. Maka musuh-musuh
islam sangat gencar memperdayai wanita agar keluar dari fitrahnya.
Lihatlah bagaimana campur tangan Yahudi
Internasional dan para agennya dalam merusak jati diri wanita. Karena dengan
rusaknya wanita berarti kerusakkan bagi keluarga dan kehancuran masyarakat sekaligus
bangsa. Sebagaimana ini hampir terjadi diseluruh dunia. Saya perhatikan di
beberapa Negara yang berada dibawah penindasan kolonialisme dalam waktu yang
lama, mereka (para penjajah) lebih terfokus untuk merusak wanita daripada
merusak pria, berangkat dari kesadaran mereka tentang pentingnya peran wanita
dalam masyarakat. Selain itu keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja bukanlah
suatu kebetulan belaka, tetapi merupakan hasil rancangan kaum kapitalis yang
dikendalikan oleh Yahudi yang bertujuan menghancurkan keluarga. (Dr. Khaid
Ahmad Asy-Syantut, Tarbiyatul Banaat Fii Baitil Muslim, hal. 14-15).
Para gembong penjajah berkata : “Gelas (khamr)
dan biduanita, akan sanggup menghancurkan umat Muhammad lebih hebat dari seribu
mariam, maka propogandakanlah kepada mereka kecintaan terhadap materi dan
syahwat". Seorang dedengkot Masoniah (salah satu organisasi Yahudi) berkata : “Kewajiban
kita adalah untuk memperalat wanita, kapan saja mereka siap mengeluarkan kedua
tangannya kepada kita sehingga mereka menghiasi yang haram dan mempropogandakan
para pahlawan pembela islam.
Telah disebutkan dalam protokolat, “Kita harus
bekerja keras untuk merusak akhlak di setiap tempat untuk mempermudah rencana
kita, sesungguhnya Sigmund Freud berada dipihak kita. Dia akan mempropogandakan
pergaulan bebas di segala penjuru hingga tidak ada lagi istilah tabu bagi para
pemuda, maka jadilah kemauan mereka yang utama adalah melampiaskan nafsu
libidonya, maka ketika itu akan hancurlah akhlaknya." (Dr. Abdullah Nashih Ulwan
dalam Tarbiyatul Aulad I/286-287).
Dari pernyataan mereka diatas, tentunya program
mereka sangat sukses. Mereka sukses mengeluarkan wanita dari fitrahnya. Ketika wanita
keluar dari rel agama. Maka bukan saja dirinya yang rusak. Akan tetapi generasi
muda, keluarga, masyarakat dan Negara akan hancur.
Sebagian wanita mungkin bertanya :”Bukankah
pengasuh (baby sitter), pendidikm atau pembantu dapat menggantikan posisi ibu
yang harus keluar untuk bekerja di luar rumah ?” Jawaban untuk pertanyaan
tersebut sederhana. Bahwa hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan fisik
dengan seluruh maknanya, karena anak adalah bagian darinya. Disamping itu,
factor keibun akan mendorongnya untuk menghiasi dan menjaga anaknya. Factor
lainnya adalah ibu merawat anaknya dengan dorongan cinta, bukan dorongan
kewajiban, seperti yang dilakukan oleh pengasuh atau pembantu. Terdapat
perbedaan besar antara cinta dan kewajiban. Seorang ibu akan menemukan
kegembiraan dan kebahagiaan saat memandikan anaknya, karena ia ingin
memperbaiki kondisinya. Sementara pengasuh dan pembantu akan merasakan lelah
dan bosen dengan pekerjaan itu, bahkan muak ketika mengerjakan tugasnya. Sang
bayi pun akan merasa muak dan bosen sebagaimana dia bisa merasakan ridha, cinta
dan kasih sayang ketika melihat wajah ibunya, ketika ibunya memandikan dan
menyusuinya.
Alexs Karl sangat paham betul tentang peran
seorang ibu, ia pernah berkata; “Masyarakat modern telah melakukan kesalahan
serius dengan menggantikan pendidikan dilingkungan keluarga dengan pendidikan
di sekolah secara TOTAL. Oleh karenanya, ibui-ibu meniggalkan anak-anak mereka
pada masa menyusui". (Laila Al-Iththar, hal. 62).
Oleh karena itu,
hendaknya setiap wanita (ibu) untuk bertaqwa kepada Allah dan meniti jalan para
salafush shalih dalam mendidik anak-anaknya. Sehingga pada akhirnya lahirlah dari
rahim-rahim mereka orang-orang yang shalih. Untuk laki-laki posisikanlah wanita
diposisi yang agung. Jagalah mereka dengan penjagaan yang baik, beruamalahlah
dengannya dengan akhlak dan adab yang indah. Wallahu A’lam.
Jakarta, 5 Dzulqo’dah 1436 H / 20 Agustus 2015 M
Abu Rufaydah bin Unib Hafidhohullah.


