Rabu, 24 April 2013

TANGISAN-TANGISAN NABI shallallahu 'alaihi wa sallam


Hati terasa keras…

Nasehat sudah sering terdengar…. lantunan ayat…sentuhan sabda-sabda Nabi…petuah-petuah para ulama….akan tetapi…??

Kenapa bisa demikian…?? Akankah hati telah kaku karena telah tenggelam dalam kilauan kemaksiatan…terlena dalam gemerlap dunia…??

Akankah mata ini mengalirkan tangisannya…jika hati telah keras membatu..?

Hati mencari kekhusyu'an dalam sholat…akan tetapi kekhusyuan lari menjauh seakan-akan memusuhi hati



Diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jam'ah adalah naik turunnya keimanan seseorang, naik karena ketaatan, dan turun karena kemaksiatan. Karenanya hendaknya seorang muslim memperhatikan imannya, jika ia merasa turunnya keimanannya maka hendaknya ia berusaha untuk memperbaruinya. Karena turunnya iman mempengaruhi kondisi hati, semakin turun keimanan semakin keraslah hati, dan semakin sulit tersentuh dan terpengaruh dengan ayat-ayat Al-Quraan maupun nasehat-nasehat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

إنّ الإِيمانَ لَيَخْلَقُ في جَوْفِ أحدِكُمْ كما يَخْلَقُ الثَّوْبُ فاسْأَلُوا اللَّهَ تعالى أن يُجَدِّدَ الإِيمانَ في قُلُوبِكُمْ

"Sesungguhnya iman akan usang di dalam tubuh kalian sebagaimana usangnya baju, maka hendaknya kalian memohon kepada Allah agar Allah memperbarui keimanan dalam hati-hati kalian"
 (HR Al-Haakim no 5 dan dihasankan oleh Al-Haitsami dalam Maj'ma' Az-Zawaaid 1/212 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1585)

Karenanya terkadang cahaya hati seorang mukmin diliputi oleh kabut kemaksiatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلْبٌ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ ، بَيْنَا الْقَمَرِ مُضِيْءٌ إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ

"Tidak ada satu hatipun kecuali ada semacam awan sebagaimana awan yang menutupi rembulan. Tatkala rembulan sedang bersinar tiba-tiba ada segumpal awan yang menutupinya hingga menjadi gelap. Jika telah pergi meninggalkan rembulan maka (kembali) bersinar"(Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di Al-Hilyah 2/196 dan dihasankan oleh Al-Albani no 2268)

Terkadang segumpal awan datang dan menutupi cahaya rembulan, akan tetapi setelah beberapa waktu maka pergilah gumpalan awan tersebut dan jadilah rembulan bersinar kembali di langit. Demikian pula dengan hati seorang mukmin, terkadang cahayanya tertutup dengan kabut kemaksiatan, akan tetapi jika ia berusaha untuk meningkatkan keimanannya dengan meminta pertolongan kepada Allah maka akan pergilah kabut kemaksiatan tersebut dan kembalilah hatinya bercahaya.

Yang jadi permasalahan jika hati tidak menyadarinya, atau bahkan menyadarinya akan tetapi membiarkan dirinya berlezat-lezatan dengan kemaksiatan dan dosa sehingga membiarkan kabut kemaksiatan tersebut bertumpuk-tumpuk…jadilah hati menjadi kaku dan keras…

Diantara perkara yang bisa melembutkan hati yang telah terlanjur keras membatu adalah menangis….merenungkan akhirat untuk menangis…



TANGISAN NABI DALAM SHOLAT

Dari 'Atoo beliau berkata, "Aku dan 'Ubaid bin 'Umair menemui Aisyah, maka 'Asiyah berkata kepada 'Ubaid bin 'Umair,

قَدْ آنَ لَكَ أَنْ تَزُورَنَا؟

"Sudah saatnya sekarang engkau mengunjungi kami?"

Maka 'Ubaid bin 'Ubair menjawab,

أَقُولُ يَا أُمَّهْ كَمَا قَالَ الْأَوَّلُ: زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

"Wahai ibuku…, aku berkata sebagaimana perkataan orang-orang terdahulu "Jarangkanlah menunjungi maka niscaya akan menambah kecintaanmu !"

Aisyah berkata,

دَعُونَا مِنْ رَطَانَتِكُمْ هَذِهِ

"Tinggalkan bahasa asingmu (*pepatah) itu"

'Ubaid bin 'Umair berkata,

أَخْبِرِينَا بِأَعْجَبِ شَيْءٍ رَأَيْتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

"Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"

Aisyah pun terdiam, kemudian ia berkata,

لَمَّا كَانَ لَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ ذَرِينِي أَتَعَبَّدُ اللَّيْلَةَ لِرَبِّي» قُلْتُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ قُرْبَكَ، وَأُحِبُّ مَا سَرَّكَ، قَالَتْ: فَقَامَ فَتَطَهَّرَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، قَالَتْ: فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ حِجْرَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ لِحْيَتَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ الْأَرْضَ، فَجَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ، فَلَمَّا رَآهُ يَبْكِي، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ تَبْكِي وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ؟، قَالَ: «أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ... }» الْآيَةَ كُلَّهَا [آل عمران: 190]. [5: 47]

"Di suatu malam Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Aisyah…, biarkanlah aku beribadah kepada Robku mala mini" Aku berkata, "Demi Allah, sungguh aku sangat suka berdekatan denganmu, (akan tetapi) aku suka apa-apa yang membuatmu senang" Maka Nabipun berdiri dan bersuci lalu beliau sholat. Maka beliau terus menangis hingga tangisan beliau membasahi pangkuan beliau (*tatkala duduk)…, kemudian beliau terus menangis hingga membasahi janggut beliau.., kemudian beliau terus menangis hingga membasahi lantai. Lalu datang Bilal mengumandangkan adzan sholat subuh. Tatkala Bilal melihat Nabi menangis maka Bilalpun berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau menangis?, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?".
Nabi berkata,

«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا

"Tidakkah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?, sungguh telah turun kepadaku malam ini sebuah ayat, celaka orang yang membacanya dan tidak merenungkannya"


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…."
 (QS Ali Imron : 190 dst) (HR Ibnu Hibbaan dalam shahihnya no 620, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 68 dan juga oleh Syu'aib Al-Arnauuth)

Lihatlah…bagaimana kondisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala berdiri di hadapan Allah dengan melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Sebuah ayat membuat beliau menangis…menangis… dan menangis…. hingga tangisan beliau membasahi lantai…, beliau menangis hingga terbit fajar. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosa beliau baik yang telah lalu maupun yang akan datang…bahkan telah dijamin masuk surga…akan tetapi demikianlah hati beliau bersama Al-Quran.

Lantas…bagaimana dengan kita …yang tidak tahu apakah dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk diampuni atau tidak??

Abdullah bin Asy-Syikkhiir radhiallahu 'anhu berkata

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا وَفِي صَدْرِهِ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ الْمِرْجَلِ مِنَ الْبُكَاءِ

"Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami dan di dada beliau ada suara sebagaimana suara air yang sedang mendidih karena tangisan" (HR Abu Dawud no 904, At-Thirmidzi di Syamaail no 321, dan An-Nasaai no 1214. Ibnu Hajar menyatakan bahwa isnadnya kuat (Fathul Baari 2/206) dan dishahihkan oleh Al-Albani

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:

شَيَّبَتْنِي هُوْدٌ و ( الْوَاقِعَة ) وَ(الْمُرْسَلاَت ) وَ(عَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ) وَ(إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ)

"Surat Huud, surat Al-Waqi'ah, surat Al-Mursalaat, surat 'An-Naba, dan surat Kuwwirot telah memutihkan rambutku"
 (HR At-Thirmidzi 3297 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 955)

Sungguh surat-surat yang dibaca oleh Nabi ini telah memutihkan rambut Nabi sebelum waktunya. Pengaruh isi dari surat-surat tersebut bukan hanya mempengaruhi hati Nabi saja, bahkan mempengaruhi jasad belia…rambut beliau.

Demikian pula para sahabat tatkala sholat nampak pengaruh al-Qur'an yang mereka lantunkan.

Lihatlah bagaimanakah Abu Bakar yang jika sholat beliau tidak bisa menahan air mata beliau.

Aisyah berkata :

لمَاَّ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتِي قَالَ : مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلَِّ بِالنَّاسِ،

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumahku (*yaitu tatkala sakit yang menyebabkan beliau meninggal), ia berkata :"Perintahlah Abu Bakar agar menjadi imam sholat orang-orang"

Maka Aisyah berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيْقٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ لاَ يَمْلِكُ دَمْعَهُ فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut, jika ia membaca AL-Qur'an maka ia tidak bisa menahan air matanya. Kalau seandainya engku memerintahkan selain Abu Bakar untuk menjadi imam…." (HR Al-Bukhari no 664 dan Muslim no 417).

Dalam riwayat yang lain Aisyah berkata:

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يَسْمَعِ النَّاسُ مِنَ الْبُكَاءِ

"Sesungguhnya kalau Abu Bakar berada di posisimu (*menggantikanmu sebagai imam) maka para makmum tidak bisa mendengar bacaannya karena tangisannya" (HR Al-Bukhari no 7303)

Demikian pula Umar bin Al-Khottoob, Al-Hasan berkata,

أَنَّ عُمَرَ قَرَأَ: { إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ }، فَرَبَا لَهَا رَبْوَةً عِيْدَ مِنْهَا عِشْرِيْنَ يَوْمًا

"Umar bin Al-Khottoob pernah membaca firman Allah "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya" (QS At-Thuur :7-8), maka beliaupun sesak nafas hingga akhirnya beliau dibesuk karenanya selama 20 hari" (Diriwayatkan oleh Ibnu Katsiir dengan sanadnya di Tafsirnya, pada tafsir ayat ini)

'Ubaid bin 'Umair berkata,

صَلَّى بِنَا عُمَرُ صَلاَةَ الْفَجْرِ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يُوْسُفَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : ( وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ) [ يوسف : 84 ] بَكَى حَتَّى انْقَطَعَ فَرَكَعَ

"Umar bin Al-Khottoob mengimami kami sholat subuh, lalu ia membaca surat Yusuf hingga akhirnya sampai pada ayat "Dan kedua mata Ya'qub menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)" (QS Yusuf : 84), maka Umarpun menangis hingga tidak mampu melanjutkan bacaannya lalu iapun ruku" (Syarah Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 10/281)

Abdullah bin Syaddaad berkata:

سَمِعْتُ نَشِيْجَ عُمَرَ وَأَنَا فِي آخِرِ الصُّفُوْفِ يَقْرَأُ {إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ}

"Aku mendengar isakan tangisan Umar, padahal aku berada di saf yang paling terakhir, Umar membaca ayat: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku" (QS Yusuf : 86)"

(Atsar ini mu'alaaq disebutkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya 1/144 sebelum hadits no 716 pada bab إِذَا بَكَى الإِمَامُ فِي الصَّلاَةِ "Jika Imam menangis dalam sholat", Dan Ibnu Hajar telah menjelaskan dalam fathul bari 2/206 bahwasanya atsar ini telah disambung oleh Sa'iid bin Manshuur, dan sholat Umar tersebut adalah sholat subuh)

Bersambung….

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 08-03-1433 H / 31 Januari 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

HARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi'iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)


Terlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah untuk memudarkan cahaya kebaikan beliau rahimahullah. Kedustaan-kedustaan ini sebagian besarnya telah dibantah dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doktoral yang berjudul دَعَاوَى الْمُنَاوِئِيْنَ لِشَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (Tuduhan-Tuduhan Musuh-Musuh Ibnu Taimiyyah) yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah bin Sholeh bin Abdul Aziiz al-Gushn. (silahkan di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=1876). Bahkan yang lebih sadis dari sekedar-sekedar tuduhan dusta, ternyata ada sebagian orang yang menggabungkan antara tuduhan dusta dan sekaligus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Salafy yang telah menuduh Ibnu Taimiyyah dengan tuduhan palsu sekaligus menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai gembong kaum munafik (lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/117-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-3-qtuduhan-ustadz-abu-salafy-bahwasanya-ibnu-taimiyyah-mencela-ali-dan-umarq). Disinyalir Abu Salafy dialah si Idahram yang juga tukang dusta. Ternyata gaya-gaya Abu Salafy ini hanyalah mengikuti gurunya Habib Hasan Saqqoof yang juga telah menuduh dengan tuduhan-tuduhan dusta serta mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Hal ini telah ditegaskan oleh Habib Wahabi Alawi bin Abdil Qodir As-Saqoof, beliau berkata : "Dahulu saya pernah membaca beberapa buku karya Hassaan bin Ali As-Saqqoof, akan tetapi seingatku saya tidak pernah selesai membaca satu bukupun dari buku-buku tersebut karena saya terasa muak dan merinding tatkala melihat celaan, ejekan, hinaan, dan makiannya terhadap para imam Ahlus Sunnah. Kemudian terakhir-terakhir ini tatkala saya mendengar suatu tayangan di channel Mustaqillah dimana dia telah mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka sayapun turut berpartisipasi untuk membantahnya…" ('Abats Ahil Ahwaa' bi Turoots al-Ummah hal 5-6, silahkan download di http://waqfeya.net/book.php?bid=5414)

Ternyata isu tentang pencelaan Ibnu Taimiyyah sudah ada sejak dulu. Ada salah seorang musuh Ibnu Taimiyyah yang berkata bahwasanya barangsiapa yang mengatakan Ibnu Taimiyyah adalah Syaikhul Islam maka ia telah kafir. Bukan hanya Ibnu Taimiyyah yang dikafirkan, bahkan semua yang mengatakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul islam maka telah kafir.

(Hal ini mengingatkan saya pada Abu Salafy dan konco-konconya yang sering menuduh kaum wahabi sebagai khawarij, ternyata justru mereka yang begitu mudah mengkafirkan kaum wahabi). Untuk membantah perkataan ini maka tegaklah seorang ulama dari madzhab As-Syafi'iah yang bernama Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (wafat 842 H) menulis sebuah risalah yang sangat baik dengan judul الرَّدُّ الْوَافِرُ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّ مَنْ سَمَّى ابْنَ تَيْمِيَّةَ شَيْخَ الإِسْلاَمِ كَافِرٌ (Bantahan yang cukup terhadap orang yang menyangka barang siapa yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam maka telah kafir- bisa di download di http://kotubcom.blogspot.com/2011/02/pdf_2275.html(cetakan lama).

Dan dalam risalahnya ini Ibnu Nashiruddin As-Syafi'i menyebutkan pujian sekitar 85 ulama besar dari berbagai madzhab, madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi'i dan madzhab Hanbali. Setelah itu Ibnu Nashiruddin berkata :

"Sungguh kami tidak menyebutkan jumlah yang banyak dari kalangan para ulama yang menyatakan akan keimaman Ibnu Taimiyyah dan juga sikap zuhud dan waro' beliau" (Ar-Rod al-Waafir hal 74, dan bagi para pembaca yang ingin melihat pujian-pujian para ulama terhadap Ibnu Taimiyyah maka silahkan mendownload kitab الْجَامِعُ لِسِيْرَةِ شَيْخِ الْإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ bisa didownload dihttp://www.waqfeya.com/book.php?bid=1000)

Sebagaimana kitab Idahram yang berisi kedustaan terang-terangan dan tuduhan dusta kepada wahabiyah diberi pengantar oleh DR Said Aqiel Siradj maka risalah Ar-Rod Al-Waafir yang membela Ibnu Taimiyyah (yang dianggap dedengkot wahabi oleh para pembenci wahabi) juga diberi pengantar oleh Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rahimahullah. Risalah Ar-Rod Al-Waafir selain mencantumkan sekitar 85 ulama yang menyatakan Ibnu Taimiyyah sebagai imam, risalah ini juga diberi pengantar oleh para ulama besar, diantaranya Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-'Asqolaaniy Asy-Syafii yang telah memuji risalah ini, dan telah memuji kepada Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit. Berikut ini saya terjemahkan kata pengantar beliau :

((Segala puji bagi Allah, dan keselamatan bagi hamba-hambaNya yang telah Ia pilih. Aku telah melihat tulisan yang bermanfaat ini, yang merupakan kumpulan untuk maksud-maksud (tujuan-tujuan) yang telah dikumpulkan oleh pengumpulnya. Maka jelas bagiku luasnya Imam yang telah menulis tulisan ini serta kedalamannya terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat yang diagungkan dan dimuliakannya di antara para ulama.

Dan tersohornya keimaman As-Syaikh Taqiyyuddin (*Ibnu Taimiyyah) lebih tersohor daripada  matahari. Dan penggelaran beliau dengan Syaikul Islam tetap terjaga di lisan-lisan yang suci sejak zaman beliau hingga saat ini , dan akan terus lestari hingga hari esok sebagaimana hari yang lalu. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali hanyalah orang jahil (dungu) atau orang yang menjauhi sikap adil. Maka sungguh berat dan betapa besar keburukan orang yang melakukan hal tersebut (*menyatakan kafirnya orang yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam). Hanya kepada Allahlah kita memohon –dengan anugerah dan karuniaNya- agar menjaga kita dari keburukan diri-diri kita dan akibat-akibat buruk dari lisan-lisan kita.

Kalau seandainya tidak ada keutamaan yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyyah kecuali hanya apa yang diingatkan oleh Al-Haafiz yang tersohor yaitu 'Alamuddiin Al-Barzaaly dalam kitab "Taarikh" nya (*maka sudah cukup) yaitu bahwasanya tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam seseorang yang tatkala meninggal maka berkumpulah manusia yang begitu banyak sebagaimana pada jenazah As-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah). Dan beliau mengisyaratkan bahwasanya jenazah Imam Ahmad tatkala itu dihadiri oleh sangat banyak orang (*di kota Baghdad), dihadiri oleh ratusan ribu orang. Akan tetapi seandainya jika di kota Damaskus (*tempat wafatnya Ibnu Taimiyyah) jumlah penduduknya seperti jumlah penduduk kota Baghdad atau bahkan berlipat-lipat ganda dari jumlah penduduk kota Baghdad maka tidak seorangpun dari penduduk yang tidak menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah. Selain itu seluruh penduduk Baghdad –kecuali hanya sedikit-, mereka seluruhnya meyakini keimaman Imam Ahmad. Dan gubernur kota Baghdad dan juga Khalifah/Raja pada waktu itu sangat mencintai dan mengagungkan Imam Ahmad.

Berbeda halnya dengan Ibnu Taimiyyah. Gubernur Damaskus sedang tidak ada di tempat tatkala wafatnya Ibnu Taimiyyah, dan (juga) mayoritas ahli fikih di Damaskus tatkala itu menentang Ibnu Taimiyyah hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah meninggal dalam keadaan di penjara di Qol'ah. Meskipun demikian tidak seorangpun dari para ahli fikih tersebut yang tidak menghadiri jenazah Ibnu Taimiyyah dan mendoakan rahmat baginya dan turut berduka cita. Kecuali hanya tiga orang yang tidak ikut serta karena mereka mengkhawatirkan diri mereka dari (gangguan) masyarakat umum (*karena ketiga orang ini sangat dikenal oleh masyarakat membenci dan menentang Ibnu Taimiyyah-pen). Dan meskipun telah berkumpul jumlah manusia yang begitu banyak  akan tetapi tidaklah ada yang mendorong mereka untuk berkumpul kecuali karena keyakinan mereka terhadap keimaman Ibnu Taimiyyah dan keberkahannya. Mereka berkumpul bukan karena diperintahkan oleh penguasa, dan juga bukan karena sebab yang lain. Dan telah shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda :

أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الأَرْضِ

"Kalian adalah saksi-saksinya Allah di dunia"

Sungguh sekumpulan ulama telah berulang kali menentang As-Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah disebabkan beberapa perkara ushul maupun furu' yang mereka ingkari dari Ibnu Taimiyyah. Bahkan telah diadakan beberapa majelis (*untuk mendebat/menyidang) Ibnu Taimiyyah dikarenakan hal tersebut di kota Qohiroh dan Damaskus, akan tetapi tidak diketahui ada seorangpun dari mereka yang berfatwa bahwa ibnu Taimiyyah zindiq atau menghalalkan darah Ibnu Taimiyyah, padahal tatkala sebagian orang-orang kerajaan begitu keras menentang beliau, hingga akhirnya beliau dipenjara di Qohiroh kemudian dipenjara di Damaskus. Meskipun demikian seluruh mereka mengakui keluasan ilmu beliau, tingginya sikap zuhud dan waro' beliau, kedermawanan dan keberanian beliau, serta perkara-perkara yang lain yang merupakan bentuk perjuangan beliau membela Islam dan berdakwah di jalan Allah ta'aalabaik secara terang-terangan maupun secara diam-diam.

Maka lantas bagaimana tidak ada pengingkaran terhadap orang yang menyatakan bahwasanya beliau kafir??, bahkan terhadp orang yang mengkafirkan orang yang menamakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam??. Dan tidak ada dalam penamaan beliau dengan Syaikhul Islam menkonsekuensikan pengkafiran. Karena sesungguhnya beliau tanpa diragukan lagi adalah salah seorang Syaikh dari para syaikh-syaikh Islam pada masanya. Dan permasalahan-permasalahan yang diingkari dari beliau tidaklah beliau mengucapkannya dengan hawa nafsu, dan beliau tidaklah bersih keras pendapat dengan permasalahan-permasalahan tersebut kecuali setelah tegaknya dalil-dalil atas pendapat beliau tersebut.

Lihatlah tulisan-tulisan karya beliau penuh dengan bantahan terhadap orang yang menyatakan tajsiimnya Allah dan beliau berlepas diri dari orang tersebut. Meskipun demikian beliau adalah manusia biasa, benar dan bersalah. Dan perkara-perkara yang beliau benar lebih banyak, karenanya diambil faedah dari beliau dan dioakan rahmat Allah bagi beliau. Adapun kesalahan-kesalahan beliau maka tidak boleh ditaqlidi, akan tetapi beliau ma'dzuur (diberi udzur) karena para imam di masa beliau mengakui bahwasanya telah terpenuhi pada beliau sarana-sarana untuk berijtihad. Bahkan orang yang paling menentang beliau dan berusaha memberi kemudhorotan kepada beliau –yaitu Syaikh Jamaaluddin Az-Zamlakaani- juga telah mengakui hal itu (bahwasanya Ibnu Taimiyyah mujtahid). Demikian juga Syaikh Sodruddin bin Al-Wakiil yang tidak ada yang kokoh dalam berdialog dengannya (juga mengakui Ibnu Taimiyyah seorang mujtahid).

Dan yang paling menakjubkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang Ahlul Bid'ah, Syi'ah Rofidhoh, Al-Hululiyah, dan Al-Ittihaadiyah (paham wihdatul wujud). Tulisan-tulisan beliau tentang hal ini banyak dan terkenal, serta fatwa-fatwa beliau tentang mereka tidak terhingga. Maka sungguh akan menyenangkan mereka jika mereka mendengar akan kafirnya Ibnu Taimiyyah, dan sungguh mereka akan bergembira jika mereka melihat ada ahli ilmu yang mengkafirkan ibnu Taimiyyah. Maka wajib bagi orang yang memiliki ilmu dan memiliki akal untuk mengamati perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah dari buku-buku karya beliau yang tersohor. Atau dari Ahlus Sunnah yang tsiqoh (terpercaya) dari kalangan ahli periwayatan/penukilan sehingga ia bisa benar-benar memperoleh perkara-perkara yang ia ingkari dari Ibnu Taimiyyah, lalu hendaknya ia memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan tersebut, dengan maksud untuk memberi nasehat, serta memuji Ibnu Taimiyyah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau pada perkara-perkara yang Ibnu Taimiyyah berada di atas kebenaran, sebagaimana kebiasaan (yang dilakukan pada) para ulama selain Ibnu Taimiyyah (*yaitu kesalahan mereka diperingatkan dengan tetap memuji mereka-pen).

Kalau saja Ibnu Taimiyyah tidak punya keistimewaan yang terpuji kecuali hanya seorang muridnya yang tersohor As-Syaikh Syamsuddin Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah penulis buku-buku yang bermanfaat dan menggembirakan yang telah memberi manfaat kepada kawan dan lawan, maka hal ini sudah sangat cukup untuk menunjukkan agungnya kedudukan Ibnu Taimiyyah.

Lantas bagaimana lagi jika para imam di zamannya dari kalangan madzhab syafiiah dan yang lainnya –apalagi para ulama madzhab hanbali- telah mengakui keterdepanan beliau dalam ilmu-ilmu dan keistimewaan beliau dalam manthuq dan mafhuum. Setelah semua kelebihan ini maka tidaklah dipandang dan tidak dijadikan pegangan orang yang menyatakan bahwa beliau kafir atau kafirnya orang yang menamakan beliau syaikhul Islam. Bahkan wajib untuk mencegahnya dari mengucapkan hal ini hingga ia kembali kepada al-hak dan tunduk kepada kebenaran.

Dan Allah-lah yang berfirman dengan kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, dan cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita dan Dialah sebaik-baik tempat bersandar.

Diucapkan dan ditulis oleh Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajr AsSyafi'I –semoga Allah memaafkannya- pada hari jum'at tanggal 9 Rabiul Awwal tahun 835 H sambil memuji Allah dan bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah Muhammad dan keluarganya)). Demikian kata pengantar yang ditulis oleh Ibnu Hajr Al-'Asqolaani terhadap risalah Ar-Rod Al-Waafir hal 77-79

Sungguh pujian setinggi langit yang diberikan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari pernyataan-peryataan beliau adalah :

Pertama : Ibnu Taimiyyah berhak untuk digelari Syaikhul Islam, dan gelar ini akan terus lestari. Dan hanya orang dungu saja atau orang yang tidak adil yang mengingkari gelar ini bagi beliau

Kedua : Tidak pernah ada jenazah yang dihadiri dengan jumlah yang begitu banyak sebagaimana janazah Ibnu Taimiyyah. Disebutkan dalam Adz-Dzail 'alaa tobaqoot Al-Hanaabilah (2/407) bahwasanya yang menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah tatkala itu sekitar 200 ribu kaum lelaki dan sekitar 15 ribu kaum wanita

Ketiga : Cukuplah satu saja murid beliau –yaitu Ibnul Qoyyim- menjadi bukti akan luas dan dalamnya ilmu Ibnu Taimiyyah.

Keempat : Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang dan membantah Ahlul Bid'ah dan Syi'ah Roofidhoh

Kelima : Ibnu Taimiyyah diakui oleh lawan-lawannya sebagai seorang mujtahid

Keenam : Lawan-lawan Ibnu Taimiyyah mengakui keterdepanan ilmu beliau, zuhud, waro', kedermawanan, serta keberanian beliau.

Demikianlah diantara keistimewaan-keistimewaan Ibnu Taimiyyah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Tentunya masih banyak keistimewaan beliau, jihad beliau, serta karomat-karomat beliau sebagaimana termaktub dalam buku-buku yang menjelaskan tentang biografi beliau.



Pujian Ulama Syafi'iyah Selain Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah


Sebagian besar warga muslim Indonesia bermadzhab As-Syafi'iyah, bahkan orang-orang yang memusuhi kaum Wahabi di tanah air kebanyakannya juga mengaku pengikut madzhab Asy-Syafiiyah. Tentunya Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh mereka sebagai dedengkot wahabi.

Karenanya saya sangat berharap agar mereka meninjau kembali permusuhan mereka. Lihatlah Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi yang membela habis Ibnu Taimiyyah juga dari madzhab Syafiiyah. Kemudian Ibnu Hajar salah seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafii juga memuji Ibnu Taimiyyah setinggi langit dan membantah orang yang mencela Ibnu Taimiyyah. Dan masih banyak ulama-ulama syafiiyah yang lainnya yang memuji Ibnu Taimiyyah. Berikut ini saya akan menyampaikan pujian-pujian setinggi langit dari para ulama besar madzhab syafiiyah, agar mereka para pembenci kaum wahabi bisa mencontohi ulama mereka.

Pertama : Al-Haafizh Abul Fath Al-Ya'muri As-Syafii (penulis kitab عُيُوْنُ الأَثَرِ فِي فُنُوْنِ الْمَغَازِي وَالشَّمَائِلِ وّالسِّيَرِ, wafat pada tahun 734 H, lihat Ad-Duror Al-Kaaminah 4/330), beliau berkata :

وَكَادَ يَسْتَوْعِبُ السُّنَنَ وَالآثَارَ حِفْظاً، إِنْ تَكَلَّمَ فِي التَّفْسِيْرِ فَهُوَ حَامِلُ رَايَتِهِ، أَوْ أَفْتَى فِي الْفِقْهِ فَهُوَ مُدْرِكُ غَايَتَهُ، أَوْ ذَاكِرٌ بِالْحَدِيث فهو صاحب علمه وذو روايته، أو حاضر بالنِّحل والملل لم يُر أوسع من نِحْلَتِه في ذلك ولا أرفع من درايته، برز في كل فنٍّ على أبناء جنسه، ولم ترَ عينُ مَن رآه مثلَه، ولا رأتْ عينُه مثلَ نفسِه

"Beliau (*Ibnu Taimiyyah) menguasai hadits-hadits dan atsar-atsar dengan hafalan, jika beliau berbicara tentang tafsir maka beliau adalah pembawa bendera ilmu tafsir, atau jika beliau berfatwa dalam fikih maka beliau tahu puncak ilmu fikih, atau tatkala ia menyebutkan hadits maka beliau adalah pemiliki ilmu hadits dan periwayatannya, atau tatkala menyebutkan tentang ilmu aliran dan agama maka tidak dilihat ada orang yang lebih luas ilmunya daripada beliau dan tidak ada yang lebih tinggi pengetahuannya. Beliau unggul pada seluruh cabang ilmu di atas orang-orang yang sebangsa beliau. Dan orang yang pernah melihatnya tidak pernah melihat orang lain yang semisalnya, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang seperti dirinya" (Ajwibah Ibni Sayyid An-Naas Al-Ya'muri 'an su'aalaat Ibni Abiik Ad-Dimyathi 2/221 tahqiq DR Muhammad Ar-Rowandi, sebagaimana dinukil dalam Al-Jaami' li Siirh Syaikhil Islaam hal 188)

Kedua : Abul Hajjaaj Yusuf bin Abdirrahman Al-Mizziy As-Syafi'i (salah satu Imam Al-Jarh wa at-Ta'diil, penulis kitab Tahdziibul Kamaal, wafat 742 H)

Beliau berkata :

مَا رَأَيْتُ مِثْلَهُ وَلاَ رَأَى هُوَ مِثْلَ نَفْسِهِ، وَمَا رَأَيْتَ أَحَداً أَعْلَمَ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَلاَ أَتْبَعَ لَهُمَا مِنْهُ

"Aku tidak pernah melihat yang seperti beliau, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang semisalnya, dan aku tidak pernah melihat seorangpun lebih berilmu tentang al-Qur'an dan sunnah Rasulullah dan lebih menjalankan Al-Qur'an As-Sunnah daripada dia" (Tobaqoot Ulamaa Al-Hadiits 4/283)

Ketiga : Kamaaluddin Abul Ma'aali Muhammad bin Ali Az-Zamlakaani As-Syafi'i (wafat 728 H), beliu berkata :

كَانَ إِذَا سُئِلَ عَنْ فَنٍّ مِنَ الْعِلْمِ ظَنَّ الرَّائِي وَالسَّامِعُ أَنَّهُ لاَ يَعِرْفُ غَيْرَ ذَلِكَ الْفَنِّ

"Jika Ibnu Taimiyyah ditanya tentang salah satu cabang ilmu maka orang yang melihat dan mendengar (jawabannya) menyangka bahwa Ibnu Taimiyyah tidak mengetahui cabang ilmu yang lain" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144), maksud beliau yaitu karena terlalu hebatnya Ibnu Taimiyyah dalam bidang ilmu tersebut, sehingga seakan-akan Ibnu Taimiyyah menghabiskan umurnya untuk mempelajari satu bidang ilmu saja dan tidak mempelajari bidang ilmu-ilmu yang lain. Akan tetapi ternyata kehebatan ini berlaku pada seluruh bidang ilmu.

Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dalam syairnya :

هُوَ حُجَّةٌ لله قَاهِرَة    هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَة ُالدَّهْرِ

"Dia adalah hujjah milik Allah yang menguasai…..dia diantara kita adalah keajaiban zaman"

Imam Ibnu Katsiir As-Syafii menyebutkan bahwasanya Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dengan syair ini padahal tatkala itu umur Ibnu Taimiyyah sekitar 30 tahun (lihat Al-Bidaayah wa an-Nihaayah 18/298)

Keempat : Abu Hayyaan Al-Andalusi An-Nahwi As-Syafi'i, penulis kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhiith, dahulunya beliau bermadzhab Maliki kemudian berpindah ke madzhab As-Syafii dan mengarang sebuah kitab yang berjudul  الوَهَّاجُ فِي اخْتِصَارِ الْمِنْهَاجِ لِلنَّوَوِي (lihat muqoddimah tafsiir al-Bahr Al-Muhiith 1/57),   wafat tahun 745 H. Beliau pernah berkata ; "Kedua mataku tidak pernah melihat yang semisal Ibnu Taimiyyah", lalu beliau memuji Ibnu Taimiyyah dalam untaian syairnya, diantaranya beliau berkata :

قام ابنُ تيمية في نصر شِرْعَتِنَا     مَقامَ سَيِّدِ تَيْمٍ إذْ عَصَتْ مُضَرُ

فأظهرَ الحقَّ إذْ آثارُهُ دَرَستْ     وأخمدَ الشَّرَّ إذ طارتْ له الشَّرَرُ

"Tegaklah Ibnu Taimiyyah dalam memperjuangkan syari'at kita…

Sebagaimana Pemimpin Kabilah Taimi (yaitu Abu Bakar As-Shiddiq) tatkala kabilah Mudhor membangkang (menjadi murtad)

Maka Ibnu Taimiyyahpun menampakan kebenaran tatkala atsar dari kebenaran telah lenyap…

Dan iapun memadamkan keburukan seteleh keburukan merajalela"


Kelima : Adz-Dzhabi As-Syaafii, beliau berkata ;

فَلَوْ حَلَفْتُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، لَحَلَفْتُ: أَنِّي مَا رَأَيْتُ بِعَيْنَيَّ مِثْلَهُ، وَأَنَّهُ مَا رَأَى مِثْلَ نَفْسِهِ

"Kalau aku bersumpah diantara hajar aswad dan maqom Ibrahim maka aku sungguh akan bersumpah : Aku tidak pernah melihat dengan dua mataku ini yang semisal Ibnu Taimiyyah, dan diapun tidak pernah melihat yang semisal dirinya" (Adz-Dzail 'alaa Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab 2/390)

Keenam : Ibnu Daqiiq Al-'Ieed As-Syafii, beliau pernah ditanya tentang Ibnu Taimiyyah setelah bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, maka beliau berkata :

رَأَيْتُ رَجُلاً سَائِرُ الْعُلُوْمِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، يَأْخُذُ مَا شَاءَ مِنْهَا وَيَتْرُكُ مَا شَاءَ

"Aku telah melihat seorang yang seluruh ilmu berada di hadapan kedua matanya, ia mengambil apa yang dia sukai dari ilmu-ilmu tersebut dan meninggalkan apa yang ia sukai" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/146)

Ketujuh : 'Imaadudiin Ahmad bin Ibrahim, Syaikh Al-Hazzamiyah Al-Washithy Asy-Syafi'i (wafat 711 H), beliau berkata :

"Demi Allah kemudian demi Allah  kemudian demi Allah tidak pernah terlihat dibawah langit ini yang seperti guru kalian Ibnu Taimiyyah dari sisi ilmu, amal, kondisi, akhlak, itiibaa', kedermawanan, kebijaksanaan, dan penegakan terhadap hak Allah ta'aala tatkala dilanggar keharaman. Beliau adalah orang paling benar aqidahnya dan yang paling benar ilmu dan tekadnya, dan yang paling semangat dan paling cepat dalam membela kebenaran dan menegakkannya, dan orang yang tangannya paling pemurah, dan yang paling sempurna ittiba'nya (keteladanannya) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak pernah melihat di zaman kami ini seseorang yang nampak kenabian muhammadiah serta sunnah-sunnahnya dari perkataan dan perbuatannya kecuali orang ini (Ibnu Taimiyyah), dan hati yang bersih mempersaksikan bahwasanya ini adalah ittibaa' yang sesungguhnya" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144)

Kedelapan : Abdullah bin Hamid As-Syafii, beliau pernah menulis kepada Abdullah bin Rusyaiq (warrooq/penulis Ibnu Taimiyyah/semacam sekertaris), ia berkata :

"Dan sebelum saya menemukan pembahasan-pembahasan Imam Dunia (*Ibnu Taimiyyah) rahimahullah, saya telah menelaah kitab-kitab para penulis terdahulu, dan aku telah melihat perkataan para mutaakhirin dari kalangan ahli filsafat, maka aku mendapatinya terdapat kebatilan-kebatilan dan keraguan-keraguan yang tidak pantas untuk terbetik di hati seorang muslim yang lemah apalagi seorang yang agamanya kuat. Sungguh meletihkan dan menyedihkan hatiku tatkala aku melihat orang-orang besar bisa terbawa ke pemikiran-pemikiran yang lemah dan rendah yang pemeluk umat ini tidak akan meyakini kebenarannya. Akupun memeriksa sunnah yang murni di buku-buku para ahli filsafat pengikut madzhab Imam Ahmad secara khusus karena mereka tersohor dengan keteguhan mereka memegang perkataan-perkataan Imam mereka (Imam Ahmad) dalam masalah pokok-pokok aqidah, akan tetapi aku tidak mendapatkan dari mereka apa yang mencukupi. Aku melihat mereka kontradikisi tatkala mereka menetapkan landasan-landasan yang ternyata bertentangan dengan apa yang mereka yakini. Atau mereka meyakini perkara yang bertentangan dengan konsekuensi dari dalil-dalil mereka. Jika aku mengumpulkan antara pendapat-pendapat Mu'tzilah, Asya'iroh, dan Hanabilah Baghdad, serta Karomiyahnya Khurosaan maka aku melihat bahwasanya ijmaak (consensus) para ahli filsafat dalam satu permasalahan bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil akal dan naql (Al-Qur'an dan As-Sunnah), maka hal ini membuat aku tidak suka dan menjadikanku bersedih dengan kesedihan yang tidak mengetahui hakekat kesedihanku kecuali Allah. Hingga akupun menderita tatkala menghadapi perkara ini dengan penderitaan yang sangat berat, yang aku tidak mampu untuk menjelaskan sedikit penderitaanku itu.

Akupun bersandar kepada Allah ta'aala dan aku merendah kepadaNya, lalu aku berlari ke lahiriahnya nas-nas dan aku menemukan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda dan demikian pula takwilan-takwilan yang dibuat-buat, maka fitroh ini tidak mau menerimanya. Lalu fitrohku bergantung kepada kebenaran yang jelas dalam pokok-pokok permasalahan, akan tetapi aku tidak berani terang-terangan untuk berpendapat dan menancapkan aqidahku diatasnya karena aku tidak menemukan adanya atsar dari para imam dan para salaf terdahulu. Hingga akhirnya Allah mentaqdirkan aku untuk menemukan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelang wafatnya beliau. Maka aku mendapatkan di dalamnya sesuatu yang menakjubkanku dimana fitrohku sepakat dengan apa yang terdapat di dalamnya, serta penyandaran kebenaran kepada para imam sunnah dan para salaf, disertai dengan keserasian antara akal dan dalil. Maka akupun terpaku karena sangat senang dengan kebenaran, dan gembira dengan ditemukannya apa yang aku cari-cari yang jika hilang maka tidak ada gantinya. Maka jadilah kecintaan terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjadi sesuatu yang harus, yang aku tidak mampu untuk mengungkapkan kecintaanku kepadanya meskipun hanya sedikit, walaupun aku sudah berusaha dengan sebaik-baiknya" (Risaalah min Abdillah bin Haamid ilaa Abdillah bin Rusyaiq, dan risalah ini terlampirkan dalam kitab al-'Uquud ad-Durriyah hal 307)

Kesembilan : Ibnu Katsiir (penulis kitab Tafsiir Al-Qur'aan al-'Adziim). Beliau berkata :"Telah ditulis banyak buku tentang biografi beliau, dan sejumlah dari kalangan orang-orang yang mulia dan selain mereka juga menulis biografi beliau. Dan kami akan menuliskan biografi singkat tentang manaqib beliau, keutamaan-keutamaan beliau, keberanian, kedermawanan, nasehat beliau, zuhudnya beliau, ibadah beliau, ilmu beliau yang banyak…" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 18/302)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-01-1433 H / 14 Desember 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.comTerlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah untuk memudarkan cahaya kebaikan beliau rahimahullah. Kedustaan-kedustaan ini sebagian besarnya telah dibantah dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doktoral yang berjudul دَعَاوَى الْمُنَاوِئِيْنَ لِشَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (Tuduhan-Tuduhan Musuh-Musuh Ibnu Taimiyyah) yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah bin Sholeh bin Abdul Aziiz al-Gushn. (silahkan di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=1876). Bahkan yang lebih sadis dari sekedar-sekedar tuduhan dusta, ternyata ada sebagian orang yang menggabungkan antara tuduhan dusta dan sekaligus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Salafy yang telah menuduh Ibnu Taimiyyah dengan tuduhan palsu sekaligus menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai gembong kaum munafik (lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/117-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-3-qtuduhan-ustadz-abu-salafy-bahwasanya-ibnu-taimiyyah-mencela-ali-dan-umarq). Disinyalir Abu Salafy dialah si Idahram yang juga tukang dusta. Ternyata gaya-gaya Abu Salafy ini hanyalah mengikuti gurunya Habib Hasan Saqqoof yang juga telah menuduh dengan tuduhan-tuduhan dusta serta mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Hal ini telah ditegaskan oleh Habib Wahabi Alawi bin Abdil Qodir As-Saqoof, beliau berkata : "Dahulu saya pernah membaca beberapa buku karya Hassaan bin Ali As-Saqqoof, akan tetapi seingatku saya tidak pernah selesai membaca satu bukupun dari buku-buku tersebut karena saya terasa muak dan merinding tatkala melihat celaan, ejekan, hinaan, dan makiannya terhadap para imam Ahlus Sunnah. Kemudian terakhir-terakhir ini tatkala saya mendengar suatu tayangan di channel Mustaqillah dimana dia telah mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka sayapun turut berpartisipasi untuk membantahnya…" ('Abats Ahil Ahwaa' bi Turoots al-Ummah hal 5-6, silahkan download di http://waqfeya.net/book.php?bid=5414)

Ternyata isu tentang pencelaan Ibnu Taimiyyah sudah ada sejak dulu. Ada salah seorang musuh Ibnu Taimiyyah yang berkata bahwasanya barangsiapa yang mengatakan Ibnu Taimiyyah adalah Syaikhul Islam maka ia telah kafir. Bukan hanya Ibnu Taimiyyah yang dikafirkan, bahkan semua yang mengatakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul islam maka telah kafir.

(Hal ini mengingatkan saya pada Abu Salafy dan konco-konconya yang sering menuduh kaum wahabi sebagai khawarij, ternyata justru mereka yang begitu mudah mengkafirkan kaum wahabi). Untuk membantah perkataan ini maka tegaklah seorang ulama dari madzhab As-Syafi'iah yang bernama Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (wafat 842 H) menulis sebuah risalah yang sangat baik dengan judul الرَّدُّ الْوَافِرُ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّ مَنْ سَمَّى ابْنَ تَيْمِيَّةَ شَيْخَ الإِسْلاَمِ كَافِرٌ (Bantahan yang cukup terhadap orang yang menyangka barang siapa yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam maka telah kafir- bisa di download di http://kotubcom.blogspot.com/2011/02/pdf_2275.html(cetakan lama).

Dan dalam risalahnya ini Ibnu Nashiruddin As-Syafi'i menyebutkan pujian sekitar 85 ulama besar dari berbagai madzhab, madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi'i dan madzhab Hanbali. Setelah itu Ibnu Nashiruddin berkata :

"Sungguh kami tidak menyebutkan jumlah yang banyak dari kalangan para ulama yang menyatakan akan keimaman Ibnu Taimiyyah dan juga sikap zuhud dan waro' beliau" (Ar-Rod al-Waafir hal 74, dan bagi para pembaca yang ingin melihat pujian-pujian para ulama terhadap Ibnu Taimiyyah maka silahkan mendownload kitab الْجَامِعُ لِسِيْرَةِ شَيْخِ الْإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ bisa didownload dihttp://www.waqfeya.com/book.php?bid=1000)

Sebagaimana kitab Idahram yang berisi kedustaan terang-terangan dan tuduhan dusta kepada wahabiyah diberi pengantar oleh DR Said Aqiel Siradj maka risalah Ar-Rod Al-Waafir yang membela Ibnu Taimiyyah (yang dianggap dedengkot wahabi oleh para pembenci wahabi) juga diberi pengantar oleh Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rahimahullah. Risalah Ar-Rod Al-Waafir selain mencantumkan sekitar 85 ulama yang menyatakan Ibnu Taimiyyah sebagai imam, risalah ini juga diberi pengantar oleh para ulama besar, diantaranya Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-'Asqolaaniy Asy-Syafii yang telah memuji risalah ini, dan telah memuji kepada Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit. Berikut ini saya terjemahkan kata pengantar beliau :

((Segala puji bagi Allah, dan keselamatan bagi hamba-hambaNya yang telah Ia pilih. Aku telah melihat tulisan yang bermanfaat ini, yang merupakan kumpulan untuk maksud-maksud (tujuan-tujuan) yang telah dikumpulkan oleh pengumpulnya. Maka jelas bagiku luasnya Imam yang telah menulis tulisan ini serta kedalamannya terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat yang diagungkan dan dimuliakannya di antara para ulama.

Dan tersohornya keimaman As-Syaikh Taqiyyuddin (*Ibnu Taimiyyah) lebih tersohor daripada  matahari. Dan penggelaran beliau dengan Syaikul Islam tetap terjaga di lisan-lisan yang suci sejak zaman beliau hingga saat ini , dan akan terus lestari hingga hari esok sebagaimana hari yang lalu. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali hanyalah orang jahil (dungu) atau orang yang menjauhi sikap adil. Maka sungguh berat dan betapa besar keburukan orang yang melakukan hal tersebut (*menyatakan kafirnya orang yang menggelari Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam). Hanya kepada Allahlah kita memohon –dengan anugerah dan karuniaNya- agar menjaga kita dari keburukan diri-diri kita dan akibat-akibat buruk dari lisan-lisan kita.

Kalau seandainya tidak ada keutamaan yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyyah kecuali hanya apa yang diingatkan oleh Al-Haafiz yang tersohor yaitu 'Alamuddiin Al-Barzaaly dalam kitab "Taarikh" nya (*maka sudah cukup) yaitu bahwasanya tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam seseorang yang tatkala meninggal maka berkumpulah manusia yang begitu banyak sebagaimana pada jenazah As-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah). Dan beliau mengisyaratkan bahwasanya jenazah Imam Ahmad tatkala itu dihadiri oleh sangat banyak orang (*di kota Baghdad), dihadiri oleh ratusan ribu orang. Akan tetapi seandainya jika di kota Damaskus (*tempat wafatnya Ibnu Taimiyyah) jumlah penduduknya seperti jumlah penduduk kota Baghdad atau bahkan berlipat-lipat ganda dari jumlah penduduk kota Baghdad maka tidak seorangpun dari penduduk yang tidak menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah. Selain itu seluruh penduduk Baghdad –kecuali hanya sedikit-, mereka seluruhnya meyakini keimaman Imam Ahmad. Dan gubernur kota Baghdad dan juga Khalifah/Raja pada waktu itu sangat mencintai dan mengagungkan Imam Ahmad.

Berbeda halnya dengan Ibnu Taimiyyah. Gubernur Damaskus sedang tidak ada di tempat tatkala wafatnya Ibnu Taimiyyah, dan (juga) mayoritas ahli fikih di Damaskus tatkala itu menentang Ibnu Taimiyyah hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah meninggal dalam keadaan di penjara di Qol'ah. Meskipun demikian tidak seorangpun dari para ahli fikih tersebut yang tidak menghadiri jenazah Ibnu Taimiyyah dan mendoakan rahmat baginya dan turut berduka cita. Kecuali hanya tiga orang yang tidak ikut serta karena mereka mengkhawatirkan diri mereka dari (gangguan) masyarakat umum (*karena ketiga orang ini sangat dikenal oleh masyarakat membenci dan menentang Ibnu Taimiyyah-pen). Dan meskipun telah berkumpul jumlah manusia yang begitu banyak  akan tetapi tidaklah ada yang mendorong mereka untuk berkumpul kecuali karena keyakinan mereka terhadap keimaman Ibnu Taimiyyah dan keberkahannya. Mereka berkumpul bukan karena diperintahkan oleh penguasa, dan juga bukan karena sebab yang lain. Dan telah shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda :

أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الأَرْضِ

"Kalian adalah saksi-saksinya Allah di dunia"

Sungguh sekumpulan ulama telah berulang kali menentang As-Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah disebabkan beberapa perkara ushul maupun furu' yang mereka ingkari dari Ibnu Taimiyyah. Bahkan telah diadakan beberapa majelis (*untuk mendebat/menyidang) Ibnu Taimiyyah dikarenakan hal tersebut di kota Qohiroh dan Damaskus, akan tetapi tidak diketahui ada seorangpun dari mereka yang berfatwa bahwa ibnu Taimiyyah zindiq atau menghalalkan darah Ibnu Taimiyyah, padahal tatkala sebagian orang-orang kerajaan begitu keras menentang beliau, hingga akhirnya beliau dipenjara di Qohiroh kemudian dipenjara di Damaskus. Meskipun demikian seluruh mereka mengakui keluasan ilmu beliau, tingginya sikap zuhud dan waro' beliau, kedermawanan dan keberanian beliau, serta perkara-perkara yang lain yang merupakan bentuk perjuangan beliau membela Islam dan berdakwah di jalan Allah ta'aalabaik secara terang-terangan maupun secara diam-diam.

Maka lantas bagaimana tidak ada pengingkaran terhadap orang yang menyatakan bahwasanya beliau kafir??, bahkan terhadp orang yang mengkafirkan orang yang menamakan Ibnu Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam??. Dan tidak ada dalam penamaan beliau dengan Syaikhul Islam menkonsekuensikan pengkafiran. Karena sesungguhnya beliau tanpa diragukan lagi adalah salah seorang Syaikh dari para syaikh-syaikh Islam pada masanya. Dan permasalahan-permasalahan yang diingkari dari beliau tidaklah beliau mengucapkannya dengan hawa nafsu, dan beliau tidaklah bersih keras pendapat dengan permasalahan-permasalahan tersebut kecuali setelah tegaknya dalil-dalil atas pendapat beliau tersebut.

Lihatlah tulisan-tulisan karya beliau penuh dengan bantahan terhadap orang yang menyatakan tajsiimnya Allah dan beliau berlepas diri dari orang tersebut. Meskipun demikian beliau adalah manusia biasa, benar dan bersalah. Dan perkara-perkara yang beliau benar lebih banyak, karenanya diambil faedah dari beliau dan dioakan rahmat Allah bagi beliau. Adapun kesalahan-kesalahan beliau maka tidak boleh ditaqlidi, akan tetapi beliau ma'dzuur (diberi udzur) karena para imam di masa beliau mengakui bahwasanya telah terpenuhi pada beliau sarana-sarana untuk berijtihad. Bahkan orang yang paling menentang beliau dan berusaha memberi kemudhorotan kepada beliau –yaitu Syaikh Jamaaluddin Az-Zamlakaani- juga telah mengakui hal itu (bahwasanya Ibnu Taimiyyah mujtahid). Demikian juga Syaikh Sodruddin bin Al-Wakiil yang tidak ada yang kokoh dalam berdialog dengannya (juga mengakui Ibnu Taimiyyah seorang mujtahid).

Dan yang paling menakjubkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang Ahlul Bid'ah, Syi'ah Rofidhoh, Al-Hululiyah, dan Al-Ittihaadiyah (paham wihdatul wujud). Tulisan-tulisan beliau tentang hal ini banyak dan terkenal, serta fatwa-fatwa beliau tentang mereka tidak terhingga. Maka sungguh akan menyenangkan mereka jika mereka mendengar akan kafirnya Ibnu Taimiyyah, dan sungguh mereka akan bergembira jika mereka melihat ada ahli ilmu yang mengkafirkan ibnu Taimiyyah. Maka wajib bagi orang yang memiliki ilmu dan memiliki akal untuk mengamati perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah dari buku-buku karya beliau yang tersohor. Atau dari Ahlus Sunnah yang tsiqoh (terpercaya) dari kalangan ahli periwayatan/penukilan sehingga ia bisa benar-benar memperoleh perkara-perkara yang ia ingkari dari Ibnu Taimiyyah, lalu hendaknya ia memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan tersebut, dengan maksud untuk memberi nasehat, serta memuji Ibnu Taimiyyah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau pada perkara-perkara yang Ibnu Taimiyyah berada di atas kebenaran, sebagaimana kebiasaan (yang dilakukan pada) para ulama selain Ibnu Taimiyyah (*yaitu kesalahan mereka diperingatkan dengan tetap memuji mereka-pen).

Kalau saja Ibnu Taimiyyah tidak punya keistimewaan yang terpuji kecuali hanya seorang muridnya yang tersohor As-Syaikh Syamsuddin Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah penulis buku-buku yang bermanfaat dan menggembirakan yang telah memberi manfaat kepada kawan dan lawan, maka hal ini sudah sangat cukup untuk menunjukkan agungnya kedudukan Ibnu Taimiyyah.

Lantas bagaimana lagi jika para imam di zamannya dari kalangan madzhab syafiiah dan yang lainnya –apalagi para ulama madzhab hanbali- telah mengakui keterdepanan beliau dalam ilmu-ilmu dan keistimewaan beliau dalam manthuq dan mafhuum. Setelah semua kelebihan ini maka tidaklah dipandang dan tidak dijadikan pegangan orang yang menyatakan bahwa beliau kafir atau kafirnya orang yang menamakan beliau syaikhul Islam. Bahkan wajib untuk mencegahnya dari mengucapkan hal ini hingga ia kembali kepada al-hak dan tunduk kepada kebenaran.

Dan Allah-lah yang berfirman dengan kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, dan cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita dan Dialah sebaik-baik tempat bersandar.

Diucapkan dan ditulis oleh Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajr AsSyafi'I –semoga Allah memaafkannya- pada hari jum'at tanggal 9 Rabiul Awwal tahun 835 H sambil memuji Allah dan bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah Muhammad dan keluarganya)). Demikian kata pengantar yang ditulis oleh Ibnu Hajr Al-'Asqolaani terhadap risalah Ar-Rod Al-Waafir hal 77-79

Sungguh pujian setinggi langit yang diberikan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari pernyataan-peryataan beliau adalah :

Pertama : Ibnu Taimiyyah berhak untuk digelari Syaikhul Islam, dan gelar ini akan terus lestari. Dan hanya orang dungu saja atau orang yang tidak adil yang mengingkari gelar ini bagi beliau

Kedua : Tidak pernah ada jenazah yang dihadiri dengan jumlah yang begitu banyak sebagaimana janazah Ibnu Taimiyyah. Disebutkan dalam Adz-Dzail 'alaa tobaqoot Al-Hanaabilah (2/407) bahwasanya yang menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah tatkala itu sekitar 200 ribu kaum lelaki dan sekitar 15 ribu kaum wanita

Ketiga : Cukuplah satu saja murid beliau –yaitu Ibnul Qoyyim- menjadi bukti akan luas dan dalamnya ilmu Ibnu Taimiyyah.

Keempat : Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang dan membantah Ahlul Bid'ah dan Syi'ah Roofidhoh

Kelima : Ibnu Taimiyyah diakui oleh lawan-lawannya sebagai seorang mujtahid

Keenam : Lawan-lawan Ibnu Taimiyyah mengakui keterdepanan ilmu beliau, zuhud, waro', kedermawanan, serta keberanian beliau.

Demikianlah diantara keistimewaan-keistimewaan Ibnu Taimiyyah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Tentunya masih banyak keistimewaan beliau, jihad beliau, serta karomat-karomat beliau sebagaimana termaktub dalam buku-buku yang menjelaskan tentang biografi beliau.



Pujian Ulama Syafi'iyah Selain Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah


Sebagian besar warga muslim Indonesia bermadzhab As-Syafi'iyah, bahkan orang-orang yang memusuhi kaum Wahabi di tanah air kebanyakannya juga mengaku pengikut madzhab Asy-Syafiiyah. Tentunya Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh mereka sebagai dedengkot wahabi.

Karenanya saya sangat berharap agar mereka meninjau kembali permusuhan mereka. Lihatlah Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi yang membela habis Ibnu Taimiyyah juga dari madzhab Syafiiyah. Kemudian Ibnu Hajar salah seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafii juga memuji Ibnu Taimiyyah setinggi langit dan membantah orang yang mencela Ibnu Taimiyyah. Dan masih banyak ulama-ulama syafiiyah yang lainnya yang memuji Ibnu Taimiyyah. Berikut ini saya akan menyampaikan pujian-pujian setinggi langit dari para ulama besar madzhab syafiiyah, agar mereka para pembenci kaum wahabi bisa mencontohi ulama mereka.

Pertama : Al-Haafizh Abul Fath Al-Ya'muri As-Syafii (penulis kitab عُيُوْنُ الأَثَرِ فِي فُنُوْنِ الْمَغَازِي وَالشَّمَائِلِ وّالسِّيَرِ, wafat pada tahun 734 H, lihat Ad-Duror Al-Kaaminah 4/330), beliau berkata :

وَكَادَ يَسْتَوْعِبُ السُّنَنَ وَالآثَارَ حِفْظاً، إِنْ تَكَلَّمَ فِي التَّفْسِيْرِ فَهُوَ حَامِلُ رَايَتِهِ، أَوْ أَفْتَى فِي الْفِقْهِ فَهُوَ مُدْرِكُ غَايَتَهُ، أَوْ ذَاكِرٌ بِالْحَدِيث فهو صاحب علمه وذو روايته، أو حاضر بالنِّحل والملل لم يُر أوسع من نِحْلَتِه في ذلك ولا أرفع من درايته، برز في كل فنٍّ على أبناء جنسه، ولم ترَ عينُ مَن رآه مثلَه، ولا رأتْ عينُه مثلَ نفسِه

"Beliau (*Ibnu Taimiyyah) menguasai hadits-hadits dan atsar-atsar dengan hafalan, jika beliau berbicara tentang tafsir maka beliau adalah pembawa bendera ilmu tafsir, atau jika beliau berfatwa dalam fikih maka beliau tahu puncak ilmu fikih, atau tatkala ia menyebutkan hadits maka beliau adalah pemiliki ilmu hadits dan periwayatannya, atau tatkala menyebutkan tentang ilmu aliran dan agama maka tidak dilihat ada orang yang lebih luas ilmunya daripada beliau dan tidak ada yang lebih tinggi pengetahuannya. Beliau unggul pada seluruh cabang ilmu di atas orang-orang yang sebangsa beliau. Dan orang yang pernah melihatnya tidak pernah melihat orang lain yang semisalnya, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang seperti dirinya" (Ajwibah Ibni Sayyid An-Naas Al-Ya'muri 'an su'aalaat Ibni Abiik Ad-Dimyathi 2/221 tahqiq DR Muhammad Ar-Rowandi, sebagaimana dinukil dalam Al-Jaami' li Siirh Syaikhil Islaam hal 188)

Kedua : Abul Hajjaaj Yusuf bin Abdirrahman Al-Mizziy As-Syafi'i (salah satu Imam Al-Jarh wa at-Ta'diil, penulis kitab Tahdziibul Kamaal, wafat 742 H)

Beliau berkata :

مَا رَأَيْتُ مِثْلَهُ وَلاَ رَأَى هُوَ مِثْلَ نَفْسِهِ، وَمَا رَأَيْتَ أَحَداً أَعْلَمَ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَلاَ أَتْبَعَ لَهُمَا مِنْهُ

"Aku tidak pernah melihat yang seperti beliau, dan dia sendiri tidak pernah melihat orang yang semisalnya, dan aku tidak pernah melihat seorangpun lebih berilmu tentang al-Qur'an dan sunnah Rasulullah dan lebih menjalankan Al-Qur'an As-Sunnah daripada dia" (Tobaqoot Ulamaa Al-Hadiits 4/283)

Ketiga : Kamaaluddin Abul Ma'aali Muhammad bin Ali Az-Zamlakaani As-Syafi'i (wafat 728 H), beliu berkata :

كَانَ إِذَا سُئِلَ عَنْ فَنٍّ مِنَ الْعِلْمِ ظَنَّ الرَّائِي وَالسَّامِعُ أَنَّهُ لاَ يَعِرْفُ غَيْرَ ذَلِكَ الْفَنِّ

"Jika Ibnu Taimiyyah ditanya tentang salah satu cabang ilmu maka orang yang melihat dan mendengar (jawabannya) menyangka bahwa Ibnu Taimiyyah tidak mengetahui cabang ilmu yang lain" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144), maksud beliau yaitu karena terlalu hebatnya Ibnu Taimiyyah dalam bidang ilmu tersebut, sehingga seakan-akan Ibnu Taimiyyah menghabiskan umurnya untuk mempelajari satu bidang ilmu saja dan tidak mempelajari bidang ilmu-ilmu yang lain. Akan tetapi ternyata kehebatan ini berlaku pada seluruh bidang ilmu.

Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dalam syairnya :

هُوَ حُجَّةٌ لله قَاهِرَة    هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَة ُالدَّهْرِ

"Dia adalah hujjah milik Allah yang menguasai…..dia diantara kita adalah keajaiban zaman"

Imam Ibnu Katsiir As-Syafii menyebutkan bahwasanya Az-Zamlakaani memuji Ibnu Taimiyyah dengan syair ini padahal tatkala itu umur Ibnu Taimiyyah sekitar 30 tahun (lihat Al-Bidaayah wa an-Nihaayah 18/298)

Keempat : Abu Hayyaan Al-Andalusi An-Nahwi As-Syafi'i, penulis kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhiith, dahulunya beliau bermadzhab Maliki kemudian berpindah ke madzhab As-Syafii dan mengarang sebuah kitab yang berjudul  الوَهَّاجُ فِي اخْتِصَارِ الْمِنْهَاجِ لِلنَّوَوِي (lihat muqoddimah tafsiir al-Bahr Al-Muhiith 1/57),   wafat tahun 745 H. Beliau pernah berkata ; "Kedua mataku tidak pernah melihat yang semisal Ibnu Taimiyyah", lalu beliau memuji Ibnu Taimiyyah dalam untaian syairnya, diantaranya beliau berkata :

قام ابنُ تيمية في نصر شِرْعَتِنَا     مَقامَ سَيِّدِ تَيْمٍ إذْ عَصَتْ مُضَرُ

فأظهرَ الحقَّ إذْ آثارُهُ دَرَستْ     وأخمدَ الشَّرَّ إذ طارتْ له الشَّرَرُ

"Tegaklah Ibnu Taimiyyah dalam memperjuangkan syari'at kita…

Sebagaimana Pemimpin Kabilah Taimi (yaitu Abu Bakar As-Shiddiq) tatkala kabilah Mudhor membangkang (menjadi murtad)

Maka Ibnu Taimiyyahpun menampakan kebenaran tatkala atsar dari kebenaran telah lenyap…

Dan iapun memadamkan keburukan seteleh keburukan merajalela"


Kelima : Adz-Dzhabi As-Syaafii, beliau berkata ;

فَلَوْ حَلَفْتُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، لَحَلَفْتُ: أَنِّي مَا رَأَيْتُ بِعَيْنَيَّ مِثْلَهُ، وَأَنَّهُ مَا رَأَى مِثْلَ نَفْسِهِ

"Kalau aku bersumpah diantara hajar aswad dan maqom Ibrahim maka aku sungguh akan bersumpah : Aku tidak pernah melihat dengan dua mataku ini yang semisal Ibnu Taimiyyah, dan diapun tidak pernah melihat yang semisal dirinya" (Adz-Dzail 'alaa Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab 2/390)

Keenam : Ibnu Daqiiq Al-'Ieed As-Syafii, beliau pernah ditanya tentang Ibnu Taimiyyah setelah bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, maka beliau berkata :

رَأَيْتُ رَجُلاً سَائِرُ الْعُلُوْمِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، يَأْخُذُ مَا شَاءَ مِنْهَا وَيَتْرُكُ مَا شَاءَ

"Aku telah melihat seorang yang seluruh ilmu berada di hadapan kedua matanya, ia mengambil apa yang dia sukai dari ilmu-ilmu tersebut dan meninggalkan apa yang ia sukai" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/146)

Ketujuh : 'Imaadudiin Ahmad bin Ibrahim, Syaikh Al-Hazzamiyah Al-Washithy Asy-Syafi'i (wafat 711 H), beliau berkata :

"Demi Allah kemudian demi Allah  kemudian demi Allah tidak pernah terlihat dibawah langit ini yang seperti guru kalian Ibnu Taimiyyah dari sisi ilmu, amal, kondisi, akhlak, itiibaa', kedermawanan, kebijaksanaan, dan penegakan terhadap hak Allah ta'aala tatkala dilanggar keharaman. Beliau adalah orang paling benar aqidahnya dan yang paling benar ilmu dan tekadnya, dan yang paling semangat dan paling cepat dalam membela kebenaran dan menegakkannya, dan orang yang tangannya paling pemurah, dan yang paling sempurna ittiba'nya (keteladanannya) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak pernah melihat di zaman kami ini seseorang yang nampak kenabian muhammadiah serta sunnah-sunnahnya dari perkataan dan perbuatannya kecuali orang ini (Ibnu Taimiyyah), dan hati yang bersih mempersaksikan bahwasanya ini adalah ittibaa' yang sesungguhnya" (Syadzaroot Adz-Dzahab 8/144)

Kedelapan : Abdullah bin Hamid As-Syafii, beliau pernah menulis kepada Abdullah bin Rusyaiq (warrooq/penulis Ibnu Taimiyyah/semacam sekertaris), ia berkata :

"Dan sebelum saya menemukan pembahasan-pembahasan Imam Dunia (*Ibnu Taimiyyah) rahimahullah, saya telah menelaah kitab-kitab para penulis terdahulu, dan aku telah melihat perkataan para mutaakhirin dari kalangan ahli filsafat, maka aku mendapatinya terdapat kebatilan-kebatilan dan keraguan-keraguan yang tidak pantas untuk terbetik di hati seorang muslim yang lemah apalagi seorang yang agamanya kuat. Sungguh meletihkan dan menyedihkan hatiku tatkala aku melihat orang-orang besar bisa terbawa ke pemikiran-pemikiran yang lemah dan rendah yang pemeluk umat ini tidak akan meyakini kebenarannya. Akupun memeriksa sunnah yang murni di buku-buku para ahli filsafat pengikut madzhab Imam Ahmad secara khusus karena mereka tersohor dengan keteguhan mereka memegang perkataan-perkataan Imam mereka (Imam Ahmad) dalam masalah pokok-pokok aqidah, akan tetapi aku tidak mendapatkan dari mereka apa yang mencukupi. Aku melihat mereka kontradikisi tatkala mereka menetapkan landasan-landasan yang ternyata bertentangan dengan apa yang mereka yakini. Atau mereka meyakini perkara yang bertentangan dengan konsekuensi dari dalil-dalil mereka. Jika aku mengumpulkan antara pendapat-pendapat Mu'tzilah, Asya'iroh, dan Hanabilah Baghdad, serta Karomiyahnya Khurosaan maka aku melihat bahwasanya ijmaak (consensus) para ahli filsafat dalam satu permasalahan bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil akal dan naql (Al-Qur'an dan As-Sunnah), maka hal ini membuat aku tidak suka dan menjadikanku bersedih dengan kesedihan yang tidak mengetahui hakekat kesedihanku kecuali Allah. Hingga akupun menderita tatkala menghadapi perkara ini dengan penderitaan yang sangat berat, yang aku tidak mampu untuk menjelaskan sedikit penderitaanku itu.

Akupun bersandar kepada Allah ta'aala dan aku merendah kepadaNya, lalu aku berlari ke lahiriahnya nas-nas dan aku menemukan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda dan demikian pula takwilan-takwilan yang dibuat-buat, maka fitroh ini tidak mau menerimanya. Lalu fitrohku bergantung kepada kebenaran yang jelas dalam pokok-pokok permasalahan, akan tetapi aku tidak berani terang-terangan untuk berpendapat dan menancapkan aqidahku diatasnya karena aku tidak menemukan adanya atsar dari para imam dan para salaf terdahulu. Hingga akhirnya Allah mentaqdirkan aku untuk menemukan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelang wafatnya beliau. Maka aku mendapatkan di dalamnya sesuatu yang menakjubkanku dimana fitrohku sepakat dengan apa yang terdapat di dalamnya, serta penyandaran kebenaran kepada para imam sunnah dan para salaf, disertai dengan keserasian antara akal dan dalil. Maka akupun terpaku karena sangat senang dengan kebenaran, dan gembira dengan ditemukannya apa yang aku cari-cari yang jika hilang maka tidak ada gantinya. Maka jadilah kecintaan terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjadi sesuatu yang harus, yang aku tidak mampu untuk mengungkapkan kecintaanku kepadanya meskipun hanya sedikit, walaupun aku sudah berusaha dengan sebaik-baiknya" (Risaalah min Abdillah bin Haamid ilaa Abdillah bin Rusyaiq, dan risalah ini terlampirkan dalam kitab al-'Uquud ad-Durriyah hal 307)

Kesembilan : Ibnu Katsiir (penulis kitab Tafsiir Al-Qur'aan al-'Adziim). Beliau berkata :"Telah ditulis banyak buku tentang biografi beliau, dan sejumlah dari kalangan orang-orang yang mulia dan selain mereka juga menulis biografi beliau. Dan kami akan menuliskan biografi singkat tentang manaqib beliau, keutamaan-keutamaan beliau, keberanian, kedermawanan, nasehat beliau, zuhudnya beliau, ibadah beliau, ilmu beliau yang banyak…" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 18/302)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-01-1433 H / 14 Desember 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Beribadah Karena Mengharap Surga Merusak Keikhlasan??


Ada beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang merusak keikhlasan, akan tetapi ternyata tidak merusak keikhlasan. Perkara-perkara tersebut adalah :

Pertama : Beramal dalam rangka mencari surga.

Sebagian orang terlalu berlebihan dan salah faham tentang keikhlasan. Orang yang beramal sholeh karena mencari surga dinamakan oleh Robi'ah al-'Adawiyah dengan "Pekerja yang buruk". Ia berkata:

مَا عَبَدْتُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلاَ حُبًّا فِي جَنَّتِهِ فَأَكُوْنَ كَأَجِيْرِ السُّوْءِ، بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيهِ

"Aku tidaklah menyembahNya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surgaNya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaan dan kerinduan kepadaNya" (Ihyaa' Uluum ad-Diin 4/310)


Demikian juga Al-Gozali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang ablah (dungu). Ia barkata,

فَالْعَامِلُ ِلأَجْلِ الْجَنَّةِ عَامِلٌ لِبَطْنِهِ وَفَرْجِهِ كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ وَدَرَجَتُهُ دَرَجَةُ الْبَلَهِ وَإِنَّهُ لَيَنَالُهَا بِعَمَلِهِ إِذْ أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْبَلَهُ وَأَمَّا عِبَادَةُ ذَوِي الْأَلْبَابِ فَإِنَّهَا لاَ تُجَاوِزُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَالْفِكْرِ فِيْهِ لِجَمَالِهِ ... وَهَؤُلاَءِ أَرْفَعُ دَرَجَةً مِنَ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى الْمَنْكُوْحِ وَالْمَطْعُوْمِ فِي الْجَنَّةِ

"Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahanNya….maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga" (Ihyaa Uluumid Diin 3/375)

          Tentunya ini adalah pendapat yang keliru. Bisa ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama : Allah telah mensifati para nabi dan juga pemimpin kaum mukminin bahwasanya mereka beribadah kepada Allah dalam kondisi takut dan berharap. Allah berfirman

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (٥٧)

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al-Isroo : 57)

Allah berfirman tentang 'Ibaadurrohman bahwasanya mereka takut dengan adzab neraka

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥)

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal".(QS Al-Furqoon : 65)

Nabi Ibrahim 'alaihis salaam berkata dalam doanya

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (٨٥)وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (٨٦)وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (٨٧)

Dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.(QS Asy-Syu'aroo 85-87)

Allah memuji Nabi Zakariya dan juga Nabi Yahya 'alaihima as-salam dalam firmanNya

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (٩٠)

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. (QS Al-Anbiyaa : 90)

Demikian juga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terlalu banyak doa-doa beliau meminta surga dan terjauhkan dari neraka.

Kedua : Bahkan Allah mensifati para ulil albab (orang-orang yang berakal dan cerdas) bahwasanya mereka takut dengan adzab neraka dan mengharapkan janji Allah. Yang ini jelas bantahan terhadap Al-Ghozali yang menganggap orang yang mengharapkan surga dan takut neraka sebagai orang yang dungu.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (١٩٢)رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ (١٩٣)رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (١٩٤)

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS Ali 'Imroon : 191-194)

Ketiga : Setelah Allah menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan di surga lalu Allah memerintahkan para hambaNya untuk saling berlomba-lomba dalam memperolehnya.

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (٢٦)

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS Al-Muthoffifin : 26)

Keempat : Terlalu banyak ayat dalam al-Qur'an yang menjelasan tentang nikmat-nikmat surga. Maka jika seseorang tercela mengharapkan kenikmatan surga maka seakan-akan Allah telah menyesatkan hamba-hambaNya dengan mengiming-iming mereka dengan nikmat surga. Demikian juga halnya Allah sering menyebutkan tentang perihnya adzab neraka.

Kelima : Diantara kenikmatan surga –bahkan yang merupakan puncak kenikmatan- adalah melihat wajah Allah. Karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah nikmat ini, sebagaimana dalam doanya :

وَأَسْأَلَُك لَذَّةَ النَّظْرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكِ

"Dan aku memohon keledzatan memandang wajahMu, dan kerinduan untuk bertemu denganMu" (HR An-Nasaai no 1305 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Orang yang mengaku tidak berharap kenikmatan surga, maka apakah ia tidak ingin melihat wajah Allah?!!

Keenam : Banyak hadits yang mempersyaratkan "pengharapan ganjaran dari Allah" pada sebuah amalan.

Contohnya sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena keimanan dan berharap maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR Al-Bukhari no 38 dan Muslim no 760)

مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا) حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ (مِنَ الأَجْرِ)، قِيْلَ: (يَا رَسُوْلَ اللهِ) وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ

"Barangsiapa yang mengikuti janazah muslim karena keimanan dan mengharapkan (ganjaran dari Allah) hingga disholatkan jenazah tersebut maka bagi dia qirot pahala, dan barangsiapa yang menghadiri janazah hingga dikubur maka baginya dua qirot pahala". Maka dikatakan, "Wahai Rasulullah, apa itu dua qirot?", Nabi berkata, "Seperti dua gunung besar" (HR Al-Bukhari no 47)

Al-Khotthoobi berkata

احْتِسَابًا أَيْ عَزِيْمَةً وَهُوَ أَنْ يَصُوْمَهُ عَلَى مَعْنَى الرَّغْبَةِ فِي ثَوَابِهِ

"Ihtisaaban" yaitu azimah (tekad) maksudnya ia berpuasa karena berharap pahala dari Allah" (Fathul Baari 4/115)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 24-10-1433 H / 11 September 2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

AKU MENINGGALKANNYA KARENA ALLAH


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad no 23074)


Fiqh Hadits :

PERTAMA : Lafal ( شَيْئًا= sesuatu), adalah kalimat nakiroh dalam konteks kalimat nafyi (negatif) memberikan faedah keumuman. Artinya "sesuatu" apa saja yang engkau tinggalkan karena Allah…

Bisa jadi sesuatu yang ditinggalkan adalah :
(1) Perkara yang haram yang sangat mungkin ia lakukan, akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah, seperti
  • Seseorang yang kaya raya karena bekerja sebagai pegawai instansi yang berpenghasilan riba, lalu ia meninggalkan pekerjaan yang menggiurkan tersebut.
  • Seseorang yang hatinya tergerak untuk bermaksiat, sangat berkesempatan untuk berzina, atau untuk menyaksikan tayangan-tayangan yang haram dan vulgar, lalu ia meninggalkannya karena Allah
  • Seseorang yang diajak untuk bermaksiat…akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah.

(2) Perkara yang halal, akan tetapi ditinggalkan karena ada kemaslahatan yang besar. Contohnya :
  • Seseorang memiliki harta untuk membeli sesuatu yang ia sukai, akan tetapi ada panggilan untuk melaksanakan ibadah umroh yang juga membutuhkan dana yang besar, maka iapun meninggalkan perkara yang ia sukai karena Allah demi menjalankan ibadah umroh
  • Seseorang yang memiliki harta untuk membeli kebutuhannya, akan tetapi ternyata ada kerabatnya atau saudaranya sesama muslim yang membutuhkan bantuannya, maka iapun meninggalkan untuk membeli kebutuhannya tersebut demi untuk membantu saudaranya tersebut.
  • Seseorang yang dipanggil untuk bertamsya gratisan, dan ia sangat senang untuk melakukan tamasya tersebut, akan tetapi ternyata jadwal tamasya tersebut bertepatan dengan jadwal pengajian. Lalu iapun meninggalkan tamasya tersebut agar bisa mengikuti pengajian.

(3) Perkara yang telah digariskan oleh Allah, terpaksa ia tinggalkan, akan tetapi ia meninggalkannya dengan niat karena Allah. Contohnya : seseorang yang terpaksa meninggalkan harta dan tanah kelahirannya karena ditekan oleh orang-orang kafir. Meskipun bentuknya ia meninggalkan harta dan tanah kelahirannya secara terpaksa karena intimidasi kaum kuffar, akan tetapi jika ia meninggalkannya karena Allah maka ia telah masuk dalam keumuman hadits di atas.

KEDUA : Lafal (  لِلَّهِ= "Karena Allah"), mengingatkan bahwa motivasi untuk meninggalkan "sesuatu" tersebut harus semata-mata karena Allah. Karenanya tidaklah termasuk dalam kategori "Karena Allah" :
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan akan tetapi semata-mata karena takut cibiran dan celaan masyarakat
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena takut kesehatannya terganggu. Seperti seseorang yang meninggalkan rokok dan bir, karena khawatir akan terkena penyakit paru-paru atau penyakit yang lainnya.
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena ingin dipuji oleh masyarakat.
  • Seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang haram karena tidak enak sama teman-temannya.

Karenanya permasalahan "Karena Allah" merupakan perkara yang sangat urgen, karena ini adalah penentu tentang terwujudkannya janji Allah untuk menggantikan dengan yang lebih baik dari perkara-perkara yang ditinggalkan.



KETIGA : Lafal (بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ منه = Allah akan menggantikan yang lebih baik bagimu daripada yang kau tinggalkan)

Lafal (ما = yang lebih baik) adalah ما al-maushuulah, yang dalam kaidah juga memberikan faedah keumuman. Karenanya bisa jadi:
  • Allah menggantikan sesuatu yang ditinggalkan karena Allah dengan perkara yang sejenis dengan perkara yang ditinggalkan, hanya saja lebih baik
  • Allah mengganti dengan perkara yang lebih baik akan tetapi tidak sejenis dengan perkara yang ditinggalkan
  • Allah menggantikan baginya dengan menghilangkan atau memalingkan darinya musibah atau bencana atau kesulitan yang tadinya akan menghadangnya.



KEEMPAT : Contoh-contoh kisah akan bukti hadits ini

Realita banyak mencontohkan akan bukti hadits ini, diantaranya

(1) Para sahabat kaum muhajirin yang harus meninggalkan tanah air mereka, rumah, serta harta mereka demi untuk berhijrah ke Madinah sehingga bisa beribadah kepada Allah dengan baik tanpa diintimidasi oleh kaum musyrikin Arab. Akhirnya Allah menggantikan bagi mereka harta yang lebih banyak dan kekuasaan serta kemenangan atas kaum musyrikin. Bahkan Allah menjadikan mereka menguasai kembali tanah air mereka Mekah. (lihat Tafsiir Ibnu Katsiir 4/572)

(2) Kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salaam yang meninggalkan kuda-kuda kesenangannnya dengan menyembelih kuda-kuda tersebut karena kuda-kuda tersebut telah melalaikan beliau hingga tidak sempat sholat di petang hari hingga matahari tenggelam. Ia pun menyembelih kuda-kuda tersebut dan disumbangkan karena Allah.

Akhirnya Allah pun menggantikan kuda-kuda tersebut dengan angin yang mengalir dengan cepat dan mengalir ke arah yang dikehendaki oleh nabi Sulaiman 'alaihis salaam. (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 712)

(3) Kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salaam yang harus meninggalkan kaumnya, meninggalkan kerabat dan keluarganya yang menyembah patung, lalu berhijrah menuju Palestina, maka Allah pun menggantikan baginya anak-anak yang sholeh. Diantaranya Ishaq 'alaihis salaam yang akhirnya dilahirkan oleh Sarah yang telah mencapai masa monopouse.

Allah berfirman :

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩)

"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi" (QS Maryam : 49) (lihat kitab Tafsiir As-Sirooj Al-Muniir karya Asy-Syirbini 2/340)

Tentunya meninggalkan kerabat dan kampung halaman merupakan perkara yang berat, akan tetapi Ibrahim 'alaihis salam meninggalkannya karena Allah. (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 494)

(4) Barang siapa yang menjaga pandangannya dengan meninggalkan memandang perkara-perkara yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada pandangannya dan menambah manis imannya. (lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 566)

(5) Kisah tentang Aisyah radhiallahu 'anhaa yang sedang berpuasa, lalu ada seorang miskin yang meminta makanan kepada Aisyah, sementara Aisyah tidak memiliki kecuali hanya sepotong roti. Lalu Aisyah memerintahkan budak wanitanya untuk memberikan sepotong roti tersebut kepada sang miskin, maka sang budak berkata, "Engkau bakalan tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa". Akan tetapi Aisyah tetap memerintahkannya untuk memberikan roti tersebut kepada sang miskin. Maka ternyata tatakala sore hari ada seseorang yang memberikan hadiah seekor kambing yang sudah dimasak untuk Aisyah. (Lihat Tafsiir Al-Qurthubi 18/26)

(6) Kisah tentang Ummu Sulaim yang anaknya meninggal lalu tatkala datang sang suami maka iapun menghias dirinya untuk merayu sang suami –Abdullah bin Abi Tholhah- yang baru datang dari safar agar terlalaikan berita kematian anaknya. Ummu Sulaim telah sabar tatkala harus meninggalkan anaknya yang meninggal tersebut. Akhirnya ternyata hubungan antara ia dan sang suami tatkala itu dan seterusnya membuahkan sembilan orang anak semuanya adalah qori' al-Qur'an (lihat Syarah Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathhool 3/285)

(7) Sebuah kisah yang disebutkan dalam kitab Tafsir Al-Bahr Al-Madid karya Ibnu 'Ajiibah Abul 'Abbaas Al-Faasi tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah Faas. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Maka ternyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga akhirnya tertahan hingga malam hari. Maka ia pun melihat dari kejauhan sebuah pintu yang nampak ada lampu nyala dibalik lampu tersebut. Lalu ia mengintip di balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Maka dalam hati putri cantik ini ia berkata, "Jika tidak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorangpun". Maka iapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang putri pun menceritakan tentang kondisinya yang ketinggalan ibunya, dan ia khawatir jika ia berjalan di malam hari akan ada orang yang mengganggunya. Maka akhirnya sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga putri tersebut. Lalu iapun memasukan putri tersebut dalam rumahnya, lalu ia menjadikan penghalang berupa tikar antara ia dan sang putri, lalu iapun melanjutkan membaca buku. Lalu datanglah syaitan menggodanya. Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah pun menjaga pemuda ini. Iapun segera mengambil api lampu lalu iapun menggerakan jarinya ke lampu tersebut, satu demi satu jari-jarinya ia letakkan di api lampu tersebut hingga membakar jari-jarinya. Sang wanita mengintip sikap pemuda tersebut dan ia takjub dengan sikap tersebut. Sementara sang pemuda terus memanasi jarinya. Lalu sang pemuda memanaskan jari-jarinya dari tangannya yang satunya lagi, hingga akhirnya tiba pagi hari dan nampak cahaya terang, maka iapun mempersilahkan sang putri untuk keluar dari rumahnya dan segera pulang. Akhirnya sang putripun pulang ke rumahnya dan menceritakan tentang kisah sang pemuda. Maka segeralah ayah sang putri mendatangi majelis ilmu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada syaikh/guru di majelis tersebut. Maka sang guru  meminta agar seluruh para penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. Seluruh muridpun mengeluarkan kedua tangan mereka kecuali sang pemuda. Maka syaikh pun tahu siapa pemuda tersebut, lalu akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tersebut" (Al-Bahr Al-Madiid 3/375)
Karenanya yakinlah jika anda meninggalkan sesuatu benar-benar tulus semata-mata karena Allah maka pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Sungguh hati ini sangat terharu tatkala mengetahui ada seorang pegawai bank yang akhirnya meninggalkan pekerjaan ribanya lalu kemudian dengan sabarnya menjadi seorang penjual bakso. Allah pasti akan menggantikan baginya yang lebih baik, apakah di dunia maupun di akhirat, cepat atau lambat.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 11-02-1434 H / 24 Desember2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
ww.firanda.com