Abu Nashr al-Mikali berkata; “Suatu hari kami membicarakan tentang tempat rekreasi. Saat itu Ibnu Durad hadir (W. 321 H).
Sebagian orang
berkata : “Tempat yang paling menyenangkan untuk rekreasi adalah lembeh-lembah
asri di Damaskus.
Sebagian yang
lain berkata : “Sungai al-Uballah.”
Yang lain
berkata : “Taman Samarkand.”
Yang lain
berkata : “Nahrawan di Baghdad.”
Yang lain
berkata : “Taman Indah di Bawwan.”
Yang lain
lagi berkata : “Nubahar Balkh”.
Ibnu Duraid
berkomentar : “Semua itu adalah tempat rekreasi mata, lalu manakah jatah
rekreasi hati kalian ? Kami pun menanyakan hal tersebut, “Wahai Abu Bakr (Ibnu
Duradh), apa yang anda maksud rekreasi hati ?
Ibnu Duraid
berkata, “Membaca kitab Uyun al-Akhbar karya al-Qutbi, az-Zahrah karya Ibnu
Daud fan Qalaq al-Musytaq karya ibnu Abi Thahir. (lihat Iryad al-Arib 18/139)
2.
Ibnu Taimiyah Rahimahullah (W. 728 H)
Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi (W. 744 H), salah seorang murid Ibnu Taimiyah
Rahimahullah berkata dalam Mukhtashar Thabaqat Ulama al-Hadits, Ibnu
Taimiyah adalah tipe orang yang tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak
berhenti mengkaji, tidak bosen berkerja dan tidak letih belajar. Sedikit saja dia mempelajari salah
satu bidang ilmu, maka selalu dibukakan untuknya banyak bidang ilmu yang
lainnya. Dia bias menyusul para cendikiawan pada disiplin ilmu yang
dibidanginya.” (al-Uqud ad-Duriyyah hal. 5)
Syaikh Muhammad Khalil al-Harras berkata, “Ibnu Taimiyah Rahimahullah
adalah orang yang berpandangan tajam. Jiwanya selalu ingin mengetahui. Dia tak
pernah kenyang menelaah ilmu, tidak letih belajar dan tidak berhenti mengkaji. Meskipun
mengetahui banyak hal, Ibnu Taimiyah tetap mencurahkan jiwa dan keinginannya
untuk ilmu. Sampai-sampai ia tak berhenti mengkaji dan menyusun kitab sepanjang
hidupnya; baik ketika s Syam maupun di
Mesir dan ketika berada di penjara maupun dirumah. Bahkan dia terjatuh sakit
dan sedih ketika musuh-musuhnya menyingkirkan buku dan tulisan dari sisinya
pada masa akhir hidupnya.” (Ibnu Taimiyah as-Salafi hal. 27 dan al-Jami Li
Sirah Syaikhul Islam hlm. 189)
Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah dalam Raudhah al-Muhibbin hlm.70
menuturan bahwa gurunya, Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah bercerita, “Saya
tertimpa sakit, maka dokter berkata kepadaku, “Sesungguhnya aktivitasmu dalam
menelaah dan membicarakan ilmu memperparah penyakitmu. Saya pun berkata pada
dokter, “Saya tidak sabar melakukan hal itu. Saya akan menerangkam kepadamu
dengan ilmumu. “Bukankah jika jiwa itu bergembira dan bahagia, maka tabiatnya
akan kuat sehingga mampu menolak penyakit ? Dokter itu menjawab, “Ya. Kemudian
saya berkata padanya, “Sesungguhnya jiwaku bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya
kuat dan terntram. Maka dokter itu berkata, “Jika demikian maka ini
diluar pengobatan kami.”
Ibnul Qoyyim Rahimahullah juga menuturkan, “Seperti apa yang saya
ketahui beliau sering menderita sakit dan demam. Saat sakit beliau menaruh buku
disamping kepalanya. Jiak tersadar, maka dia membaca buku itu. Namun jika
merasa tidak mampu menguasai dirinya, dia letakkan buku itu. Pada suatu hari,
dokter menemuinya dalam keadaan demikian. Maka dokter itu berkata, “Anda
tidak boleh melakukan perbuatan ini. Anda harus membantu diri anda sendiri,
sedangkan perbuatan ini akan menyebabkan anda lama sembuh.
Seperti itulah lembaran kehidupan ulama salaf. Tak ada waktu yang
berlalu tanpa ilmu. Dengan keikhlasan yang mereka lakukan. Namanya pun masih
harum sampai saat ini dan yang akan dating. Kitab-kitabnya masih dicetak aris
dan dibaca dibelahan dunia. Sersimpan diperpustakaan dan menjadi bacaan setiap
orang yang rindu akan ilmu.
Maka sekarang saatnya kita untuk mengisi sisa umur kita. Dengan apa akan
kita tulis dengan tinta emaskah atau hanya sekedar tulisan diatas air yang tak
berbekas dan tak berkualitas.
Jakarta, 11 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar