Kamis, 11 April 2013

GILA BACA PARA ULAMA

                      


                           Abu Nashr al-Mikali berkata; “Suatu hari kami membicarakan tentang tempat rekreasi. Saat itu Ibnu Durad hadir (W. 321 H).
Sebagian orang berkata : “Tempat yang paling menyenangkan untuk rekreasi adalah lembeh-lembah asri di Damaskus.
Sebagian yang lain berkata : “Sungai al-Uballah.”
Yang lain berkata : “Taman Samarkand.”
Yang lain berkata : “Nahrawan di Baghdad.”
Yang lain berkata : “Taman Indah di Bawwan.”
Yang lain lagi berkata : “Nubahar Balkh”.
Ibnu Duraid berkomentar : “Semua itu adalah tempat rekreasi mata, lalu manakah jatah rekreasi hati kalian ? Kami pun menanyakan hal tersebut, “Wahai Abu Bakr (Ibnu Duradh), apa yang anda maksud rekreasi hati ?
Ibnu Duraid berkata, “Membaca kitab Uyun al-Akhbar karya al-Qutbi, az-Zahrah karya Ibnu Daud fan Qalaq al-Musytaq karya ibnu Abi Thahir. (lihat Iryad al-Arib 18/139)

2.       Ibnu Taimiyah Rahimahullah (W. 728 H)
Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi (W. 744 H), salah seorang murid Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam Mukhtashar Thabaqat Ulama al-Hadits, Ibnu Taimiyah adalah tipe orang yang tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak berhenti mengkaji, tidak bosen berkerja dan tidak letih  belajar. Sedikit saja dia mempelajari salah satu bidang ilmu, maka selalu dibukakan untuknya banyak bidang ilmu yang lainnya. Dia bias menyusul para cendikiawan pada disiplin ilmu yang dibidanginya.” (al-Uqud ad-Duriyyah hal. 5)

Syaikh Muhammad Khalil al-Harras berkata, “Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah orang yang berpandangan tajam. Jiwanya selalu ingin mengetahui. Dia tak pernah kenyang menelaah ilmu, tidak letih belajar dan tidak berhenti mengkaji. Meskipun mengetahui banyak hal, Ibnu Taimiyah tetap mencurahkan jiwa dan keinginannya untuk ilmu. Sampai-sampai ia tak berhenti mengkaji dan menyusun kitab sepanjang hidupnya; baik ketika s Syam  maupun di Mesir dan ketika berada di penjara maupun dirumah. Bahkan dia terjatuh sakit dan sedih ketika musuh-musuhnya menyingkirkan buku dan tulisan dari sisinya pada masa akhir hidupnya.” (Ibnu Taimiyah as-Salafi hal. 27 dan al-Jami Li Sirah Syaikhul Islam hlm. 189)
Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah dalam Raudhah al-Muhibbin hlm.70 menuturan bahwa gurunya, Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah bercerita, “Saya tertimpa sakit, maka dokter berkata kepadaku, “Sesungguhnya aktivitasmu dalam menelaah dan membicarakan ilmu memperparah penyakitmu. Saya pun berkata pada dokter, “Saya tidak sabar melakukan hal itu. Saya akan menerangkam kepadamu dengan ilmumu.Bukankah jika jiwa itu bergembira dan bahagia, maka tabiatnya akan kuat sehingga mampu menolak penyakit ? Dokter itu menjawab, “Ya. Kemudian saya berkata padanya, “Sesungguhnya jiwaku bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya kuat dan terntram. Maka dokter itu berkata, “Jika demikian maka ini diluar pengobatan kami.”
Ibnul Qoyyim Rahimahullah juga menuturkan, Seperti apa yang saya ketahui beliau sering menderita sakit dan demam. Saat sakit beliau menaruh buku disamping kepalanya. Jiak tersadar, maka dia membaca buku itu. Namun jika merasa tidak mampu menguasai dirinya, dia letakkan buku itu. Pada suatu hari, dokter menemuinya dalam keadaan demikian. Maka dokter itu berkata, “Anda tidak boleh melakukan perbuatan ini. Anda harus membantu diri anda sendiri, sedangkan perbuatan ini akan menyebabkan anda lama sembuh.
Seperti itulah lembaran kehidupan ulama salaf. Tak ada waktu yang berlalu tanpa ilmu. Dengan keikhlasan yang mereka lakukan. Namanya pun masih harum sampai saat ini dan yang akan dating. Kitab-kitabnya masih dicetak aris dan dibaca dibelahan dunia. Sersimpan diperpustakaan dan menjadi bacaan setiap orang yang rindu akan ilmu.
Maka sekarang saatnya kita untuk mengisi sisa umur kita. Dengan apa akan kita tulis dengan tinta emaskah atau hanya sekedar tulisan diatas air yang tak berbekas dan tak berkualitas.

Jakarta, 11 April 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar