Bismillah,
:
__ Aku pergi Tahlil…kau bilang amalan jahil…
__ Aku baca Shalawat Burdah…kau bilang itu Bid’ah…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku Bertawassul dengan baik…kau bilang aku Musyrik…
__ Aku ikut Majelis Dzikir…kau bilang aku Kafir…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku Shalat pakai Lafadz Niat…kau bilang aku Sesat…
__ Aku mengadakan Maulid…kau bilang tak ada Dalil yang Valid…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku Gemar Berziarah…kau bilang aku Alap-Alap Berkah…
__ Aku mengadakan Selamatan…kau bilang aku Pemuja Setan…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku pergi Yasinan…kau bilang itu tak Membawa Kebaikan…
__ Aku ikut Tasawuf Sufi…malah kau suruh aku Menjauhi…
Ya Sudahlah….aku ikut kalian…
____ Kan kupakai Celana Cingkrang….agar kau senang…
____ Kan kupanjangkan Jenggot…agar dikira berbobot…
____ Kan kuhitamkan Jidat…agar dikira Ahli Ijtihad…
____ Aku kan sering Menghujat…biar dikira Hebat…
____ Aku kan sering Mencela…biar dikira Mulia….
Ya Sudahlah….Aku pasrah pada Tuhan… Yang kusembah….
⋘◊◊⋙
JAWABAN
Gus Mus@
Lalu Aku harus bagaimana??!!!
سبحان الله،........
اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا ، فَقَد كُفِيتُم
“Ikutilah saja (sunnah Nabi) dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya sunnah Nabi telah mencukupi kalian !!!“
1•►Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:
اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi)
dan beliau juga berkata:
اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)
2•►‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)
3•►Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ
“Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)
4•►Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ
“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)
5•►Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
“Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.
6•►Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:
أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.
7•►Sahl bin ‘Abdillah At-Tasturi rahimahullah berkata:
مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ
“Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bari: 13/290)
8•►Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:
أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ
“Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam”. (Riwayat Abu Daud)
9•►Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata:
مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ
“Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)
By. Abdulloh AL Cilacapi
⋘◊◊⋙
Camkan berikut ini :
▬ Nabi mengajari ber-tahlil, tahmid, tasbih yang syar'i, tapi engkau buat tahlilan
▬ Nabi telah mengajarkan sholawat dan keutamaannya, tapi engkau membuat sholawat burdah dan Bid'ah
▬ Para sahabat bertawassul saat Nabi hidup saja, tapi engkau bertawassul kepada orang mati
▬▬ Para sahabat melarang dzikir secara berjamaah tapi engkau membiasakannya
▬▬ Nabi dan para sahabat tidak pernah melafadzkan niat tapi engkau melakukannya
▬▬ Nabi dan para sahabat tidak merayakan maulid nabi, tapi engkau merayakannya
▬ Ziarah untuk mengingat kematian, tapi engkau buat untuk bertawassul
▬ Allah turunkan 114 Surat Alquran agar dipelajari, tapi kamu mengkhususkan yasin sebagai acara rutin
▬▬ Nabi berwasiat agar berpegang terhadap sunnahnya, para sahabatnya tapi kamu buat ajaran yang menyelisihinya
▬▬ Tidak isbal, memelihara jenggot bukan kemauan kita, bukan pula tradisi arab, tapi sunnah Nabi
▬▬ hitamnya jidat bukan kemauan, bukan pula sunnah, tapi murni alamiah
Kini yang menghampirimu adalah orang yang memberi nasehat, bukan pencela maupun penghujat. Jika engkau rela dirimu tetap begini, ya sudah lah aku pasrah atas kejahilanmu, maka lakukanlah semaumu
__ Aku ikut Majelis Dzikir…kau bilang aku Kafir…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku Shalat pakai Lafadz Niat…kau bilang aku Sesat…
__ Aku mengadakan Maulid…kau bilang tak ada Dalil yang Valid…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku Gemar Berziarah…kau bilang aku Alap-Alap Berkah…
__ Aku mengadakan Selamatan…kau bilang aku Pemuja Setan…
____ Lalu aku harus bagaimana…???
__ Aku pergi Yasinan…kau bilang itu tak Membawa Kebaikan…
__ Aku ikut Tasawuf Sufi…malah kau suruh aku Menjauhi…
Ya Sudahlah….aku ikut kalian…
____ Kan kupakai Celana Cingkrang….agar kau senang…
____ Kan kupanjangkan Jenggot…agar dikira berbobot…
____ Kan kuhitamkan Jidat…agar dikira Ahli Ijtihad…
____ Aku kan sering Menghujat…biar dikira Hebat…
____ Aku kan sering Mencela…biar dikira Mulia….
Ya Sudahlah….Aku pasrah pada Tuhan… Yang kusembah….
⋘◊◊⋙
JAWABAN
Gus Mus@
Lalu Aku harus bagaimana??!!!
سبحان الله،........
اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا ، فَقَد كُفِيتُم
“Ikutilah saja (sunnah Nabi) dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya sunnah Nabi telah mencukupi kalian !!!“
1•►Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:
اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi)
dan beliau juga berkata:
اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)
2•►‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)
3•►Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ
“Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)
4•►Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ
“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)
5•►Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
“Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.
6•►Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:
أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.
7•►Sahl bin ‘Abdillah At-Tasturi rahimahullah berkata:
مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ
“Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bari: 13/290)
8•►Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:
أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ
“Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam”. (Riwayat Abu Daud)
9•►Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata:
مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ
“Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)
By. Abdulloh AL Cilacapi
⋘◊◊⋙
Camkan berikut ini :
▬ Nabi mengajari ber-tahlil, tahmid, tasbih yang syar'i, tapi engkau buat tahlilan
▬ Nabi telah mengajarkan sholawat dan keutamaannya, tapi engkau membuat sholawat burdah dan Bid'ah
▬ Para sahabat bertawassul saat Nabi hidup saja, tapi engkau bertawassul kepada orang mati
▬▬ Para sahabat melarang dzikir secara berjamaah tapi engkau membiasakannya
▬▬ Nabi dan para sahabat tidak pernah melafadzkan niat tapi engkau melakukannya
▬▬ Nabi dan para sahabat tidak merayakan maulid nabi, tapi engkau merayakannya
▬ Ziarah untuk mengingat kematian, tapi engkau buat untuk bertawassul
▬ Allah turunkan 114 Surat Alquran agar dipelajari, tapi kamu mengkhususkan yasin sebagai acara rutin
▬▬ Nabi berwasiat agar berpegang terhadap sunnahnya, para sahabatnya tapi kamu buat ajaran yang menyelisihinya
▬▬ Tidak isbal, memelihara jenggot bukan kemauan kita, bukan pula tradisi arab, tapi sunnah Nabi
▬▬ hitamnya jidat bukan kemauan, bukan pula sunnah, tapi murni alamiah
Kini yang menghampirimu adalah orang yang memberi nasehat, bukan pencela maupun penghujat. Jika engkau rela dirimu tetap begini, ya sudah lah aku pasrah atas kejahilanmu, maka lakukanlah semaumu

Oh.. Mustfofa Bisri..
BalasHapusHakekat dirimu kau tuangkan dalam puisi
Semua yang kau debat adalah ajaran Nabi
Tak ku sangka kau begitu berani
Ajaran Nabi kau tertawakan hi hi hi
Oh.. Mustfofa Bisri..
Ketika dulu aku masih kuliah
Aku selalu datang dimanapun kau ceramah
Aku selalu menyimak perkataanmu yang penuh petuah
Aku semakin yakin kau wali penuh karomah
Oh.. Mustfofa Bisri..
Kini aku terperanjat dan nelangsa
membaca pusimu berjudul "lalu aku harus bagaimana..??"
Kini kekagumanku padamu berangsur sirna
Mustfofa Bisri yang dulu dan sekarang sudah berbeda
Oh.. Mustfofa Bisri..
Seluruh Putra-Putri Nabi meninggal tidak di SELAMATI
Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
Membaca puisimu aku sangat ngeri
Ada apa denganmu Oh.. Mustfofa Bisri
Ketika Nabi wafat tidak di SELAMATI
Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
Membaca puisimu aku sangat ngeri
Ada apa denganmu Oh.. Mustfofa Bisri
Tak satupun sahabat yg gugur dan meninggal di SELAMATI
Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
Membaca puisimu aku sangat ngeri
Ada apa denganmu Oh.. Mustfofa Bisri
Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
Putra-Putrinya meninggal tidak diselamati..??
Padahal beliau adalah seorang Nabi
Apa pendapatmu Oh.. Mustfofa Bisri..
Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
Ada amalan mulia yaitu "SELAMAN dan KENDURI"
Padahal beliau adalah seorang Nabi
Apa pendapatmu Oh.. Mustfofa Bisri..
Kau debat jenggot dan celana cingkrang..
Padahal itu Sunnah Nabi yang sangat terang
Seolah kau anggap kami yang mengarang..
Ada apa denganmu wahai Budayawan yang sudah malang melintang
Oh.. Mustfofa Bisri..
Kau dahulu adalah IDOLA ku
Kini sikap dan tulisanmu membuatku pilu
Tarik lah semua puisi yang melecehkan Nabi mu dan Nabi ku
Semoga Alloh memberi hidayah padamu..
==dibuat oleh Dua Sahabat==
pengagum Gus Mus yang dulu
bukan gus mus yang sekarang
http://www.nu.or.id/post/read/68449/masih-banyak-yang-tak-tahu-puisi-soal-tahlil-ini-bukan-karya-gus-mus
HapusAssalamu'alaykum.. itu bukan puisi karangan Gus Mus, ud dikonfirm beliau di twitter @gusmusgusmu, yang ngarang AR Bolodewe. Ada di bawah. Entah, itu hanya inisial atau nama sebenarnya. Salam Hormat
BalasHapusgak usah d ragukan lg tentang k aliman gus mus beliau seorang ulama yg sangat alim n banyak mengerti tentang kebenaran ,,,,,,knapa d ributkan tentang hal hal yg
BalasHapusmemperkeruh umat muslim sendiri bukankah lbih baik kita memikirkan hal hal
yg berusaha menghancurkan islam dr dalam islam sendiri n yg membawa bendera islam...apakah salah kalo kt menyiarkan islam dg cara dikir berjamaah yasinan ,
tahlilan bukankkah isinya tahlilan itu la ilahaillallah,,,n yasin adalah salah satu surat yg ada d al-qur'an n saya yaqin orang yg yasinan jg baca al-qur'an dr awal sampe khatam..lihatlah dg orang d luar islam yg menertawakan kt yg sllu meributkan ini,apa anda gk memikirkan d beberapa daerah bnyak usaha pengkristenan terhadap anak anak kt?
suatu cnth apa kt sadar banyak orang kristen mengucapkan slamat hari raya
buat umat islam agar nanti kt mngucapkan slamat natal ,,jg banyaknya anak anak muslim skolah d skolah kristen ama dosen dosen yg d kirim k negara negara non muslim skrang bnyak ngajar d universitas islam,,,bukankah penerus bangsa ini
akan terkena virus yg d doktrin dr barat
Kullu bid'ah dholalah ya..?
BalasHapusSimple saja kok mas,
Nabi juga gak ngajarkan bahasa Indonesia kok mas, sampean pakek bahasa indonesia kan?
Nabi juga gak ngajari menggunakan komputer dan internet kok, sampean setiap hari online kan?
Nabi dan sahabat juga gak ngajari pakek HP, saya yakin setiap hari sampean menggunakannya.
Biasanya sampean ke kantor, kerja atau ke pasar naik onta ya mas? Nahhh.. itu baru gak bid'ah mas. Sampean keren. Tapi kalo sampean naik motor, berarti logika yg sampean agungkan juga sama tololnya dengan wacana bid'ah yg sampean dengungkan.
Oh ya., sampean ngerokok gak mas? itu haram lo katanya. Gak cuma bid'ah.
Sampean biasa membaca Al'quran gak mas? Ada syakalnya kan? Jaman nabi gak ada lo mas? Mulai detik ini sampean jangan lagi baca Al'Quran yg ada syakalnya lo ya, itu bid'ah lo ya..
(Jununu fununu)
betul itu, 'mmbaca tulisan' itu bid'ah loh. soalnya Rosululloh SAW ga prnah baca. hehehe
Hapussebagai contoh:
merayakan ulang tahun, maulid, dzikir brsama mmang bisa dikategorikn bid'ah, tapi itu tidak adil krna itu cuma even (acara) yg trpnting adalah isi dari acara tsb.
contoh lain:
dari sisi ibadah vrtikl, sholat qobliyah maghrib dan qobliyah juga trgolong bid'ah apabila merujuk kepada bahwa Rosululloh SAW tidak mlaksanakn itu. namun kholifah Umar ra mlaksanakn itu, kita mngikuti itu itu krna ada sabda Rosululloh SAW : "Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin"
Subhanallaah... Senang sekali membaca karya2 Gusmus. Gusmus my inspire....d
BalasHapusGus Mus Pancen SIIPPPPPP
BalasHapusAsslmkm... Saudara2 ku tercinta sesama muslim kenapa harus kita debatkan sesuatu yang tdk jelas. Saya memang bukan santri dan bukanlah ahli agama. Tetapi sy muslim. Jujur saya sangat prihatin dengan puisi dan coment saudara2 di atas seolah olah umat muslim itu gampang sekali di pecah. Perbedaan mazab harus di hormati bukankah Allah tlah berfirman: perbedaan itu anugrah dari NYA. Dan segala amal ibadah tergantung pada niat. Maaf ziarah,tahlil apa kita tau niat yg melakukan. Kalau memang niatnya dakwah dan ibadah apakah itu tercela dan bid'ah. Pake hp,internet,sdp motor apakah itu dosa? bukankah Allah sudah berfirman Alqur'an sebagai petunjuk. Dlam kitab tersebut terdapat banyak ilmu dari ilmu dunia maupun ahirat. Banyak orang kafir dan yahudi menemukan sesuatu ilmu dan teknologi itu berdasar dr Alqur'an. Mereka belajar alquran unt dunia dan kita muslim belajar kita NYA. Unt apa ahirat saja???. Mari yukk kita bersatu seperti sudah di contohkan 4 imam besar kita. Perbedaan mazab itu Anugrah jangan bukan bahan perdebatan. Asslmkm...
BalasHapusPuisi Gus Mus (kalau benar dari beliau) itu lebay cuma ngepas ngepasno tok. Mana ada orang ikut majelis dzikir dibilang kafir (oleh wahhabi) atau selamatan dibilang pemuja setan.
BalasHapusKalau cuma dengar selentingan diyakini sebagai kebenaran tanpa tabayyun jelas sebuah kebatilan... Orang memfitnah diterima mentah mentah jelas itu tidak ilmiyah..... Hati-hati koalisi orang kuffar dan syiah... Mereka selalu membenturkan sesama ahlussunnah.
Assalamu alaikum sahabat seiman dan sebangsa ?
BalasHapusHarapannya kita jangan mengalami kejumudan dalam berpikir, kita jangan menyibukkan diri mencari perbedaan yang hanya membuat pertikaian. Toh yang berbeda agama saja kita toleransi apalagi sesama agama. lebih baik kita bersama-sama mencari persamaannya yang insya Allah dapat mempersatukan pemahaman kita. Kita tidak berhak memponis seseorang itu kafir ataupun bersalah toh hakim kita yang hak adalah Allah, kita hanya meluruskan dari penalaran kaum kita yang salah ke yang benar. Kalau ada sedikit perbedaan saja kita bertikai bahkan saling bantai bagaimana meluruskan aqidah orang laun.
Sekian semoga perkataan saya tidak menyinggung pihak manapun kalaupun ada saya memohon maaf dari segala penjuru tubuh saya.
Pertanyaan Gus Mus tidak membutuhkan jawaban, sebab pertanyaan itu bukan terlahir dari sebuah ketidak tahuan. Jangan memberi jawab terhadap sesuatu, yang anda sendiri masuk dalam komunitas pertanyaan itu. Tentu anda salah, karena anda tidak mungkin terbang bebas lepas dari keterbatasan pola pikir anda sendiri. Anda memandang dari sudut pandang tersendiri, dan itulah kekurangan anda diantara kelebihan orang lain.
BalasHapusMengapa tiba-tiba anda merasa menjadi hakim yang paling benar setelah membaca puisi ini, ... telusurilah lebih lembut sikap anda, tentu anda akan terbentur dengan tembok keakuan anda sendiri. Seakan-akan orang yang ikut di belakang barisan anda yang paling benar. Anda telah mengklaim hak Allah dalam hal ini, sebagai Sang Penentu Kebenaran. Padahal dalam hal kebenaran do'a kita sama "Semoga Allah ...". Se-alim apapun orang di dunia ini, konteks do'anya masih dalam batas harapan, bukan menjustiskan diri dengan kepastian yang mutlak.
Andai anda jujur menilai, maka pesan syair Gus Mus itu adalah tentang nuansa universal watak dan dimensi berpikir manusia yang tidak pernah sama. Keluh kesah itu adalah bahasa kejujuran dalam dimensi uluhiyyah (ketuhanan). Mengapa tiba-tiba anda menjelma menjadi Tuhan bagi sesama manusia. Padahal anda sendiri tidak lebih tahu dalam cakrawala keilmuan yang lain.
Keangkuhan yang menyebabkan orang tidak dapat dapat berdiri bebas di atas ketinggian dan kemulyaan etika. Pelajarilah tentang seni dan rasa jiwa dengan sentuhan nurani, tentu anda akan memiliki sayap kebijakan hingga dapat terbang tinggi, anda akan dapat membaca apa yang tidak terbaca orang lain dan dapat merasa apa yang tidak dirasakan oleh geletar hati orang lain.
Kanjeng nabi nikah umur 25. ,klo ada umat nabi SAW lbih dri 25 belum nikah apakah bid'ah juga ya?sedangkan harus mengikuti apa yang dilakukan nabi SAW. ,pencerahannya pak ustad/yai/syech?
BalasHapushaduh.... saya baca al qur'an ada syakalnya, sudah ter himpun jadi 1 pula, berarti saya bid'ah sesat pula, tobat ah.. ga mau baca qura'n lagi
BalasHapusSaya sarankan,baca saja kitab agama Anda sendiri...hidup saling menghargai...lakum diinukum waliyadiin
HapusSemua sunnah? Ingat ente hidup dmn? Kalo hidup di arab si wajar, lha kalo disini, jikalau dipaksakan semua ikut sunnah disini, niscaya mu'alaf berkurang, ingat, jaman nabi berdakwah menggunakan syair sebagaimana dg Al Qur'an, itu membuktikan pendekan dakwah, sm halnya disini disesuaikan kontek dakwah masyarakatnya. Bukankah dakwah yg baik adl menyentuh kalbu atau hati? 😂 ingat lagi y? Jikalau menirukan nabi dmn beliau adl Al Qur'an & Insan, bisakah ente? Kalau ente masih mempersalahkan umat lainnya? Coba deh baca kembali tentang asbabun nuzul turunnya ayat & hadis 😂😂😂. Kalo sudah tau, Layaknya org beragama, kalo hanya memahami satu ayat & hadis dilihat keterkaitan dg ayat & hadis lainnya, atau matan, perawi dll. Yg terjadi y kyk demikian "pokoknya salah kalo gk sesui Al Qur'an & hadis" 😂😂😂 Kalo disini si, terdiri banyak macam suku bangsa & agama, coba kalo sunnahnya dilaksakan maka disini jadi negara khilafah y? Wkwkwk 😂😂😂 senggol yg fanatik. 😂😂😂 Sayangnya tidak bisa, karna ummat itu tidak bisa dipaksa, tp sekali lg dari hati. Seperti halnya nabi ketika dicaci maki oleh si buta yg akhirnya masuk jd ummat jg. Tau kan maksudnya? 😂😂😂 itu si menurut gw. Kalo ada yg sewot? Mmm kira2 masih Insan tidak y? 😂😂😂
BalasHapushttp://www.nu.or.id/post/read/68449/masih-banyak-yang-tak-tahu-puisi-soal-tahlil-ini-bukan-karya-gus-mus
BalasHapusPuisi berjudul “Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana” yang dibuat KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) pada tahun 1987 memiliki versi tiruannya. Puisi “aspal” yang dibuat belakangan ini mengambil judul dan stuktur kalimat yang mirip karya Gus Mus namun mengulas makna yang amat berbeda.
Puisi versi tiruan ini berisi sindiran kepada orang-orang yang gemar memvonis bid’ah, sesat, kafir, atau musyrik, terhadap sejumlah amalan ibadah semacam tahlil, shalawatan, ziarah, dan lainnya.
Meski sudah diklarifikasi berkali-kali, puisi ini masih tersebar di dunia maya, termasuk media sosial, dalam bentuk teks juga poster yang menyertakan foto Gus Mus. Bahkan, Senin (23/5) kemarin, puisi tiruan tersebut dibacakan oleh seorang mahasiswa dan dikenalkan sebagai karya Gus Mus di sela acara bedah buku "Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh di Indonesia" di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan.
Ienas Tsuroiya, putri Gus Mus, yang hadir dalam acara itu pun lantas meluruskan di hadapan forum. Menurutnya, hingga kini pencipta puisi itu belum diketahui. Puisi yang dibaca mahasiswa dengan sangat ekspresif itu adalah puisi yang meniru salah satu puisi Gus Mus yang terkenal sampai ke Negeri Jiran, "Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana".
Jauh sebelum itu, tanpa membahas kualitas konten dari puisi tersebut, Gus Mus memberitahukan melalui media sosial Twitter dan Facebook bahwa puisi itu bukan karyanya.
“Sudah berapa kali aku, anak-anakku, kawan-kawan dekatku mengklarifikasi bahwa itu BUKAN puisiku. Tapi terus saja ada yang menyebarkannya dengan memasang fotoku. Mengapa yang membuat puisi ini tidak berani mengakui sebagai karyanya atau menggunakan nama samaran apalah tanpa membawa nama dan fotoku,” tulisnya di akun Facebook pribadinya.
Hingga berita ini dimuat, puisi tersebut masih bisa ditemukan dengan mudah di sejumlah blog dan media sosial. Beberapa turut meluruskan, tapi lebih banyak yang menganggapnya sebagai karya Mustasyar PBNU itu. (Mahbib)