Diriwayatkan dari al-Qosim bin Muhammad ia berkata; “kami seringkali besafar bersama Abdullah bin al-Mubarak maka seringkali terbersit dalam fikiranku adalah dengan apa orang ini lebih diutamakan atas kita sehingga ia terkenal dihal layak ? sekiranya dia shalat maka kamipun shalat, kalau ia puasa, kamipun berpuasa, jika ia berperang kamipun berperang, dan jika ia berhaji kamipun berhaji.
Suatu ketika kami berjalandi
Syam pada malam hari kamipun makan disuatu rumah tiba-tiba mati lampu, maka
diantara kami ada yang mengambil lampu dan berusaha untuk menyalakan kembai
lampu tersebut, kemudia ia membawa lampu tersebut. Maka ketika aku melihat
wajah Abdullah bin al-Mubarak dan jenggotnya dibasahi oleh tangisan air mata,
maka aku bergumam; “Dengan Khasyah (takut) inilah orang ini lebih utama dari
kami. Boleh jadi ketika lampu itu mati dan gelap ia teringat dengan hari
kiamat. (Shifatush Shafwah 4/145 dan Aina Nahnu min Akhlakis Salaf hal. 19)
Ikhwah
fillah.
Berapa kali lampu rumah kita mati, berapa kali kita menjumpai kegelapan
? Apa yang ada dalam fikiran dan benak kita ketika itu? Mungkin sebagian kita
marah pada pihak PLN, sebagian yang lain dijadikan kesempatan untuk maksiat dan
sebagian yang lain dijadikan untuk ta’at. Tanyakan pada diri masing-masing
seberapa besarkah rasa takut pada Allah itu hinggap dihati kita. Sekiranya
dengan kejadian tersebut tidak ada efek seperti yang terjadi pada diri Abdullah
bin Al-Mubarak. Sekeras apakah hati kita ? Kiranya dengan cerita tadi tak mengandung
arti apa-apa pada diri kita. Maka basahilah lisan dengan al-Qur’an, hati dengan
istighfar dan badan dengan ibadah dzohiriyah. Bila hal itu tak mampuh membakar
semangat kita untuk ibadah, maka jangan menunggu untuk hati itu cair dan lunak
setelah dibakar dengan api neraka wal iyadubilla. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar